Resesi Sosial
*Oleh: Muhammad Irsyad Suardi

Konsep Resesi Sosial memang baru, tertanam ketika resesi ekonomi yang kian menggelinding seperti bola salju yang turun dari atas gunung, akibatnya, terjadilah hantaman berupa resesi sosial. Bola besar resesi sosial dampaknya akan lebih mengerikan daripada resesi ekonomi. Dampak dari resesi ekonomi yang paling parah kemiskinan yang menggemuk ditengah kemerosotan sosial. Namun, dampak dari resesi sosial ialah hilangnya nilai-nilai humanisme karena sudah tidak lagi memikirkan orang-orang sekitar. Akibatnya, penjarahan berupa kebutuhan makanan, penjarahan berupa uang bisa saja terjadi.
Data Kementerian Ketenagakerjaan Mei 2020, imbas terjadinya Covid-19 mengakibatkan PHK sebanyak 3 juta karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia. Sektor UMKM yang paling merasakan dampak PHK. Alhasil, karyawan mesti dirumahkan yang besar kemungkinan keluarga dirumah mulai kelaparan berhari-hari yang efek panjangnya akan terjadi hal-hal yang semestinya tidak dinginkan terjadi. Semisal pencurian, pemalakan dan seterusnya.
Bahkan, bisa saja pembunuhan jiwa seseorang karena anak-istri belum makan 3 hari. Sehingga, akal sehat sudah hanyut oleh perut yang 3 hari sudah kosong kering.
Maka, perlu satu upaya dari golongan menengah keatas, untuk melihat dan meraba situasi sekitar. Membaca dan mengamati siapa saja korban PHK, siapa saja korban dari keluarga tidak sudah tidak makan berhari-hari dan memastikan siapa saja actor yang dapat berpartisipasi dalam mengurangi efek dari resesi sosial. Dibutuhkan, gotong-royong terhadap korban yang terdampak resesi sehingga golongan menengah keatas mengurangi dampak buruk yang akan terjadi nantinya. Jika seandainya terjadi, setidaknya golongan menengah keatas telah meminimalisir kejadian yang semestinya berdampak besar. Dengan gotong-royong lahir kepekaan sosial berupa nilai-nilai humanis kemanusiaan terus aktif ditengah situasi yang sama-sama kita rasakan.
*Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas
Opini Terkait
- Musfi Yendra: Standar Layanan Informasi Publik
- Musfi Yendra: Keterbukaan Informasi Publik Nagari
- Nevi Zuairina: Refleksi Energi Indonesia Tahun 2024 dan Harapan Menuju 2025
- Misdawati, S.Pd, M.Pd: Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui GAME-PAQ
- Musfi Yendra: Keterbukaan Informasi Publik di Era Presiden Prabowo
Refleksi Energi Indonesia Tahun 2024 dan Harapan Menuju 2025
Opini - 05 Januari 2025
Oleh: Nevi Zuairina