Gali Nilai Kawin Bajapuik Antarkan Yenny jadi Doktor Ilmu Hukum

Sehingganya dengan dasar hukum jel;as untuk pelestarian budaya maka menurut Yenny perlindungan atas nilai tradisi perkawinan bajapuik pada masyarakat Pariaman akibat dampak globalisasi ini menilik dari nilai-nilai luhur dari tradisi perkawinan bajapuik tersebut tetap dipertahankan.
"Mestinya dipertahankan, kalau unsur-unsur pelaksanaan tradisi perkawinan bajapuik tersebut bisa saja disesuaikan dengan zaman,"ujarnya.
Adat Minangkabau khususnya tidak lah menolak perkembangan globalisasi yang ada, adat Minangkabau bersifat elastistik, kemudian adat Minangkabau juga bersifat sesuatu hal yang bisa bertahan dan tidak tergerus oleh zaman, serta adat Minangkabau bersifat bisa belajar dari gejala alam, seperti tergambar dalam semboyan; alam takambang jadi guru dan semboyan sakali aie gadang sakali tapian barubah.
"Konsep perlindungan nilai tradisi perkawinan bajapuik untuk masa yang akan datang dapat dilihat dari perlindungan nilai-nilai substansi tradisi perkawinan bajapuik dan penguatan dalam bentuk kongkrit dari perlindungan tradisi ini oleh masyarakat adat Pariaman serta Pemerintahan Daerah. Nilai-nilai substansi perlindungan tradisi perkawinan adat bajapuik pada masyarakat Pariaman harus berdasarkan aspek filosofis, sosiologisdan aspek yuridis,"ujarnya.
Ke tiga aspek ini kata Yenny sangat mengutamakan atau mengedepankan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi perkawinan bajapuik tersebut seperti nilai gotong royong, nilai penghargaan terhadap laki-laki sebagai kepala keluarga serta nilai- nilai musyawarah untuk menghasilkan kesepakatan antara kedua keluarga calon mempelai laki-laki dan perempuan.
"Dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi perkawinan bajapuik ini, masyarakat Pariaman tidaklah bersifat kaku atas perkembangan globalisasi sekarang ini. Masyarakat Pariaman tetap terbuka dengan kemajuan zaman dengan tetap mempertahankan unsur-unsur filosofis dari adat istiadat. Hal ini terbukti bahwa masyarakat Pariaman tetap melaksanakan kearifan lokal tradisi perkawinan bajapuik dengan kebesaran nilai-nilai luhurnya dengan menerima adanya perubahan bentuk-bentuk perubahan dalam prosesi tradisi ini. Seperti halnya prosesi dalam tradisi perkawinan bajapuik yang dulunya memakan waktu yang lama, sekarang tradisi perkawinan bajapuik tersebut dilakukan dengan pemangkasan waktu tanpa mengurangi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi tersebut,"ujarnya.
"Untuk mempertahankan keberlangsungan nilai tradisi perkawinan bajapuik pada masyarakat Pariaman, penelitian disertasi saya ini ternyata ]peran serta masyarakat serta lembaga adat sangat mempengaruhi nilai dari tradisi perkawinan bajapuik tidak lakang di paneh indak lapuak dek hujan,"ujarnya
Masyarakat dan lembaga adat tersebut tertuang dalam kepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin yaitu ninik mamak, alim ulama dan cerdik pandai yang berlandasan pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
"Koordinasi dan interaksi antara ninik mamak, alim ulama serta cerdik pandai ini haruslah serasi dan satu suara dalam upaya perlindungan nilai tradisi budaya khususnya perkawinan pada masyarakat Pariaman. Ninik mamak sebagai sumber adat dan kebudayaan, harus selaras dengan alim ulama yang memberikan arahan adat supaya tidak bertentangan dengan agama (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah) serta cerdik pandai (pemerintahan) mengakomodasikan serta memberikan perlindungan dalam setiap kegiatan-kegiatan pemerintahan dan regulasi daerah,"ujarnya.
Selama ini, justru peran serta Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin terasa berkurang akibat perkembangan zaman yang lebih mendominasi perkembangan terhadap adat kebudayaan khususnya tradisi perkawinan bajapuik. Seperti halnya bergesernya peran ninik mamak dalam proses tradisi perkawinan bajapuik ini dikarenakan lebih dominannya peran ayah atau keluarga inti dalam menentukan proses dari perkawinan dalam suatu keluarga.
Bentuk kongkrit dari perlindungan nilai tradisi perkawinan bajapuik yang dapat peneliti tawarkan dalam temuan penelitian disertasi ini adalah suatu Peraturan Daerah tentang perlindungan kebudayaan adat sebagai suatu kearifan lokal masyarakat Pariaman, yang salah satunya membahas tentang perlindungan terhadap nilai tradisi perkawinan bajapuik dalam menghadapi dampak globalisasi.
Penulis: Imel
Editor: BiNews
Berita Terkait
- Setelah 49 tahun, Bundo Kanduang Sumbar akhirnya memiliki rumah Gadang
- Rang Agam Terpilih Jadi Uda Uni Duta Wisata Sumbar 2021
- Kemenko Marves Sepakat Fasilitasi Pembangunan RDF di TPA Aie Dingin
- Verifikasi Faktual, Tim Dewan Pers Pusat Sambangi Redaksi Media Online binews.id
- Dr Aqua Dwipayana: Rapat via Zoom Sering Tidak Efektif
Wabup Candra Buka Musda DPD KNPI Kabupaten Solok ke XIV Tahun 2025
Gaya Hidup - 26 Februari 2025
Dekranasda Kota Padang Tampilkan Produk Unggulan di INACRAFT 2025
Gaya Hidup - 07 Februari 2025