Dari Tekanan ke Peluang: Strategi Bank Indonesia Mendorong Kebangkitan Ekonomi Sumbar 2026

Senin, 19 Januari 2026, 21:40 WIB | Ekonomi | Kota Padang
Dari Tekanan ke Peluang: Strategi Bank Indonesia Mendorong Kebangkitan Ekonomi Sumbar 2026
Dialog Ekonomi Sumatera Barat bertema "Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumatera Barat 2026" yang digelar di Aula Gedung Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat, Senin (19/1/26). (mel)
IKLAN BANK INDONESIA KAS KELILING

"Ini menunjukkan proses hilirisasi belum berjalan optimal. Bahkan sektor jasa keuangan dan industri pengolahan menjadi yang paling mengalami penurunan dalam struktur ekonomi Sumbar," ujarnya. Sebaliknya, sektor perdagangan justru meningkat dari 15 persen menjadi 17 persen.

Meski demikian, Ibnu Yahya menilai kondisi sosial ekonomi Sumbar relatif masih lebih baik dibandingkan nasional, terutama dari sisi tingkat kemiskinan dan pengangguran. Namun, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita dinilai perlu dipercepat.

Tekanan ekonomi Sumbar pada 2025 juga diperparah oleh bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi yang paling terdampak, dengan estimasi kerusakan mencapai Rp15 triliun dan kerugian sekitar Rp7,8 triliun.

Baca juga: Lepas Jemaah Kloter 07, Kemenag Sumbar Tegaskan Dukungan Penuh Penyelenggaraan Haji 2026

"Secara ilustratif, bencana dapat menurunkan PDB hingga 0,63 persen dan mendorong inflasi. Namun rehabilitasi pascabencana menjadi kunci untuk mengembalikan pertumbuhan," katanya.

Untuk 2025, pertumbuhan ekonomi Sumbar diproyeksikan berada di kisaran 3,3 persen. Harapannya, pertumbuhan kembali menguat pada 2026 hingga mendekati target nasional sebesar 5,4 persen.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Sumbar Buchari Bachter mencatat tren perlambatan ekonomi daerah sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tercatat 4,66 persen, kemudian melambat menjadi 3,94 persen pada triwulan II, dan kembali turun ke 3,36 persen pada triwulan III.

Menurutnya, perlambatan dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi dan daya beli masyarakat, serta dampak bencana alam terhadap sektor pariwisata dan distribusi logistik. Meski demikian, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama, disusul industri pengolahan, perdagangan, transportasi, serta sektor jasa lainnya.

Dari sisi iklim usaha, UMKM tetap menjadi tulang punggung perekonomian Sumbar. Namun, penyaluran kredit UMKM hingga September 2025 tercatat mengalami kontraksi akibat meningkatnya kehati-hatian perbankan, seiring naiknya rasio kredit bermasalah.

Ke depan, pemulihan ekonomi Sumbar harus dilakukan secara bertahap dan terintegrasi, mulai dari bantuan sosial dan perluasan akses keuangan, revitalisasi pertanian, penguatan UMKM dan pariwisata, hingga percepatan investasi dan diversifikasi ekonomi daerah. (bi)

Halaman:
1 2

Penulis: Imel
Editor: Imel

Bagikan: