Dari Tekanan ke Peluang: Strategi Bank Indonesia Mendorong Kebangkitan Ekonomi Sumbar 2026
PADANG, binews.id — Perekonomian Sumatera Barat (Sumbar) tengah berada pada fase krusial menyusul perlambatan pertumbuhan dan dampak bencana alam sepanjang 2025. Bank Indonesia (BI) menilai diperlukan langkah strategis dan terkoordinasi agar ekonomi daerah mampu kembali menguat pada 2026.
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Ekonomi Sumatera Barat bertema "Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumatera Barat 2026" yang digelar di Aula Gedung Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Barat, Senin (19/1/26).
Forum ini menghadirkan Kepala Perwakilan BI Sumbar Mohamad Abdul Madjid Ikram, Ketua Umum Kadin Sumbar Buchari Bachter, serta perwakilan pemangku kepentingan infrastruktur dan perencanaan pembangunan.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram, mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi periode penuh tekanan bagi ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi Sumbar diperkirakan hanya berada di kisaran 3,3--4,1 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi tersebut dipicu gangguan produksi dan distribusi sektor pertanian akibat cuaca ekstrem, serta perlambatan sektor konstruksi.
Baca juga: Pemkab Solok Dukung Percepatan Pendataan Bantuan Perumahan, Isi Hunian, dan Jadup Pasca Bencana
"Perlambatan konstruksi tidak terlepas dari kebijakan efisiensi anggaran selama 2025. Sejak peresmian jalan tol pada 2024, praktis tidak ada investasi infrastruktur yang signifikan," ujarnya.
Ia menegaskan, situasi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat. Dukungan anggaran teknis, terutama dari Kementerian Pekerjaan Umum, dinilai krusial untuk menggerakkan kembali sektor konstruksi.
Untuk 2026, BI mengidentifikasi tiga sektor utama yang diharapkan menjadi motor pemulihan dan pertumbuhan ekonomi Sumbar, yakni perdagangan, transportasi, dan konstruksi. Perdagangan dan transportasi diperkirakan tumbuh seiring peningkatan mobilitas dan aktivitas distribusi pascabencana, sementara sektor konstruksi didorong melalui percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
"Jika ketiga sektor ini dapat bergerak optimal, pertumbuhan ekonomi Sumbar 2026 diproyeksikan berada di kisaran 3,8--4,6 persen secara tahunan," kata Majid Ikram.
Baca juga: Pemko Padang Ikut Kawal Proses Pembebasan Lahan Fly Over Sitinjau Lauik
Dari sisi perencanaan makro, Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Bappenas, Ibnu Yahya, menilai ekonomi Sumbar menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan. Dalam periode 2011--2025, kontribusi industri pengolahan tercatat menurun dari sekitar 11 persen menjadi 9 persen, diikuti melemahnya sektor pertanian.
Penulis: Imel
Editor: Imel
Berita Terkait
- Pemprov Sumbar Siapkan Langkah Intervensi Hadapi Tekanan Inflasi Pascabencana dan Jelang Ramadhan
- BI Sumbar Hadir di Tengah Pascabencana, Warga Tukar Uang Sekaligus Tebus Beras Murah
- Divre II Sumbar Layani Hampir 2 Juta Penumpang Sepanjang Tahun 2025, Tumbuh 16.6 Persen Dibanding 2024
- Awal Tahun, Bank Nagari Hadirkan Promo Kejutan Spesial dengan Cashback untuk ASN dan Pensiunan
- Perluas Literasi Keuangan, BEI Sumbar Catat Pertumbuhan Investor Signifikan



