Didukung Semen Padang, UMKM Rumah Dagang Berhasil Budidaya Puyuh Petelur di Tengah Pandemi

PADANG, binews.id -- Pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tapi juga berdampak kepada sektor ekonomi, terutama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk keluar dari keterpurukan tersebut, pelaku UMKM melakukan berbagai upaya untuk kembali survive, begitu juga dengan UMKM Rumah Dagang yang dikelola oleh Forum Nagari Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang.
UMKM di bidang budidaya puyuh petelur yang berlokasi di RT07/RW03 Padang Besi itu diawal pandemi, sempat mengalami kesulitan menjual telur ke pasar, karena selain harga murah dan daya beli masyarakat menurun, pengunjung pasar pun berkurang sejak wabah Covid-19 melanda Kota Padang.
Namun begitu, bukan Rumah Dagang namanya kalau tidak bisa mampu keluar dari keterpurukan tersebut. Dengan menjajakan ke warung-warung sekitar Kecamatan Lubuk Kilangan, usaha puyuh petelur Forum Nagari Kelurahan Padang Besi itu akhirnya kembali survive.
"Biasanya kami jual puyuh ke Pasar Bandar Buat. Kalau sekarang, kami jual ke beberapa warung-warung di Lubuk Kilangan. Alhamdulillah laku keras," kata Bendahara Forum Nagari Kelurahan Padang Besi Darni Ayub, saat ditemui di Kandang Puyuh Rumah Dagang, Kamis (24/9/2020).
Baca juga: Pj Wali Kota Padang Apresiasi Penyaluran Beasiswa oleh UPZ Baznas PT Semen Padang
Darni menyebut, saat ini jumlah puyuh di Rumah Dagang sekitar 850 ekor. Sekitar 55 persen dari jumlah tersebut sudah memasuki masa afkir, sehingga produksi telur rata-rata hanya sekitar 350 butir per hari. Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan menambah sekitar 800 ekor puyuh sebagai pengganti dari puyuh yang sudah afkir.
"Masa puncak produksi puyuh itu dari umur 4 bulan sampai 9 bulan dengan tingkat produksinya lebih dari 85 persen. Kalau puyuh 1000 ekor, maka jumlah telurnya dikisaran 850-an butir per hari. Kalau sekarang sudah masa afkir, jadi merosot. Namun begitu, hasil produksinya masih bisa menutupi biaya kebutuhan pakan," ujarnya.
Mengenai manajemen keuangan, Darni menuturkan bahwa laporan keuangan selalu ditulis secara rinci. Bahkan tiap bulannya, Rumah Dagang selalu menyisihkan biaya tabungan puyuh sebesar Rp570 ribu yang nantinya akan digunakan kembali untuk membeli bibit dan pakan puyuh.
Kemudian, juga rutin mengeluarkan zakat 2,5 persen dari keuntungan, termasuk mengeluarkan biaya operasional bagi pengelola Rumah Dagang. "Pengelola tidak ada honor atau gaji, yang ada hanya biaya operasional dan itu hanya untuk beli BBM, karena pengelola puyuh di Rumah Dagang ini sifatnya pengabdian," bebernya.
Baca juga: Cerita Sukses Kelompok Budidaya Jamur Tiram dan Magot di Limau Manis pada Masa Pandemi
Sekitar satu tahun mengelola puyuh petelur, Darni menuturkan bahwa Rumah Dagang sudah mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp8 juta. "Keuntungan bersih ini tidak termasuk tabungan puyuh, zakat dan operasional pengelola Rumah Dagang," imbuhnya.
Penulis: Imel
Editor: BiNews
Berita Terkait
- Kota Padang Perkuat Ekonomi Kreatif Lewat Bimtek Branding Digitalisasi
- Permudah Akses Perbankan untuk UMKM, Pemko Padang Bersinergi dengan CIMB Niaga
- Evaluasi untuk Adinata Syariah 2025, Gubernur Mahyeldi Targetkan Sumbar Kembali Raih Juara Umum
- OJK: Likuiditas Perbankan 2025 Masih Ketat, Sektor Pertanian Perlu Digenjot
- Wakil Ketua DPRD Sumbar Iqra Chissa Inisiasi Pemprov dan Pertamaina Terkait Stabilisasi Stok BBM