Dosen Sastra Minangkabau Unand Hasanuddin : Silek Perlu Dibudayakan sebagai Warisan Adat dan Budaya

Senin, 15 November 2021, 12:00 WIB | Gaya Hidup | Kota Padang
Dosen Sastra Minangkabau Unand Hasanuddin : Silek Perlu Dibudayakan sebagai Warisan Adat...
Dosen Sastra Minangkabau, FIB, Universitas Andalas, Hasanuddin, saat menjadi pemateri dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas pemangku adat dengan tema "Membumikan Silek, Melestarikan Adat dan Budaya" dengan judul Menghidupkan Silek Sebagai Warisan Adat dan Budaya yang dihelat 28-30 Oktober 2021 lalu. IST
IKLAN GUBERNUR

Lanjutnya, peran para ninik mamak nagari sebagai pemilik silek sebagai suntiang juga dibutuhkan. Tak hanya itu, para guru/ tuo silek, kapalo mudo, anak sasian, pemuka masyarakat lainnya, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, dan unsur masyarakat lainnya.

"Hikmah dan iktibar dari falsafah alam, manusia menata kehidupan bermasyarakat mereka, hidup dalam dialektika harga diri vs budi. Konflik diatasi dengan Silek (keterampilan fisik dan diplomasi)," tuturnya.

Sebagai implementasi falsafah alam takambang jadi guru, semua orang adalah pandeka, baik fisik maupun diplomasi, termasuk para ulama, nan buto pahambuih lasuang, nan lumpuah paunyi jamue, nan kuaik pambao baban.

Baca juga: Budaya dan Tradisi Melalui Film akan Dibahas dalam Dialog Kebudayaan Angkatan Ketiga Bersama Donny Eros dan Hidayat

"Dulu banyak parewa, biasanya pandeka, tapi kalau di masjid/ surau tidak ada muazin dia yang melantunkan azan, kalau tidak ada imam dia tampil jadi imam, dan kalau tidak ada khatib pun dia tidak akan biarkan salat jumat batal karena tidak ada khatib.

"Semua itu adalah buah dari sistem pendidikan surau, lapau, dan sasaran, sistem pdd yang komprehensif. Intinya adalah surau sebagai lembaga pendidikan sentral (didukung rumah gadang, lapau, sasaran, tapian, dll) dan silek sebagai konten pdd karakter," tuturnya. (*/bi)

Halaman:
1 2
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: