Dosen Sastra Minangkabau Unand Hasanuddin : Silek Perlu Dibudayakan sebagai Warisan Adat dan Budaya

Senin, 15 November 2021, 12:00 WIB | Gaya Hidup | Kota Padang
Dosen Sastra Minangkabau Unand Hasanuddin : Silek Perlu Dibudayakan sebagai Warisan Adat...
Dosen Sastra Minangkabau, FIB, Universitas Andalas, Hasanuddin, saat menjadi pemateri dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas pemangku adat dengan tema "Membumikan Silek, Melestarikan Adat dan Budaya" dengan judul Menghidupkan Silek Sebagai Warisan Adat dan Budaya yang dihelat 28-30 Oktober 2021 lalu. IST
IKLAN GUBERNUR

PADANG, binews.id -- Pemerintah sebagai pengambil kebijakan perlu menerbitkan regulasi setingkat Peraturan Daerah (Perda, Perbup/ Perwako) untuk pranata silek di Nagari. Agar silek tetap membudaya sebagai warisan adat dan budaya Minangkabau.

Hal itu dikatakan Dosen Sastra Minangkabau, FIB, Universitas Andalas, Hasanuddin, saat menjadi pemateri dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) peningkatan kapasitas pemangku adat dengan tema "Membumikan Silek, Melestarikan Adat dan Budaya" dengan judul Menghidupkan Silek Sebagai Warisan Adat dan Budaya yang dihelat 28-30 Oktober 2021 lalu.

"Silek tidak lagi diturunkan sehingga anak-anak Minangkabau mengalami penurunan kompetensi, etos, etis, pengetahuan, dan keterampilan. Telah terjadi banyak penurunan kualitas etos, etis, adab, pengetahuan, dan keterampilan generasi Minangkabau dari tahun ke tahun. Demikian pula kuantitas tokoh berpengaruh scr nasional dan internasional," katanya di depan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Gemala Ranti, Anggota DPRD Provinsi, Maigus Nasir, dan Ketua IPSI Sumbar, Fauzi Bahar, di Hotel Grand Zuri, Padang.

Seperti dikatakan Dr (HC). Drs. H. M. Jusuf Kalladalam Abidin, 2016: v) " ... tahun 70-an di Jakarta, apabila tampil sepuluh orang muballigh di kegiatan keagamaan, maka umumnya sembilan orang (90 %) berasal dari Minangkabau. Tetapi, sekarang telah terjadi angka sebaliknya,".

Baca juga: Rantak Budaya: Pekan Kebudayaan Daerah 2024 Hidupkan Kembali Tradisi Minangkabau di Sumatera Barat

"Empat dari tujuh (57%) tokoh paling terkemuka Indonesia versi Majalah Tempo adalah orang Minang. Padahal, penduduk Minangkabau (Sumatera Barat) hanya berkisar 2 -- 4 persen dari total penduduk Indonesia," Hasril Chaniago.

"Ada tujuh Begawan Revolusi Indonesia. Tiga di antara mereka (42,8 %) adalah orang Minang: Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka -- empat lainnya Soekarno, Sudirman, Amir Sjarifuddin, dan A.H. Nasution. Dua di antara Triumvirat di puncak piramid The Founding Fathers (Bapak Bangsa) Indonesia: Soekarno, Hatta, Sjahrir— adalah orang Minang (Poeze, sejarawan Belanda penulis Biografi Tan Malaka)

"Silek adalah kekuatan etos, kecerdasan intelektual, keterampilan, kecekatan, ketangkasan fisik, kecerdasan intuitif/ instinktif, dst. Tidak hanya itu, Silek adalah juga kecerdasan pikiran/ mencerna (silik), kearifan komunikasi (silek lidah/ diplomasi), kecerdasan emosional (kekuatan etis), dan kecerdasan spiritual (suluk)," katanya.

Dikatakan Hasanuddin, ada beberapa faktor yang menyebabkan sehingga terjadi hal demikian, seperti faktor eksternal kolonial, nasional, PRRI, sistem pemerintahan, pendidikan, politik, dan lain-lain. Dan faktor internal, penurunan hargadiri, dorongan adaptasi modernitas, adopsi sistem demokrasi liberal yang tidak dapat ditolak karena paksaan struktural lebih tinggi, dan lainnya.

Baca juga: Hidayat: Melestarikan Nilai Budaya, ya Harus Diterapkan Bukan Teori

"Diharapkan selain pemerintah juga dengan penataan/restrukturisasi nagari sebagai satuan masyarakat hukum adat dan juga manajemen sekolah (SD, SMP, SMA, SMK) sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan silek sehingga silek kembali membudaya," ujarnya.

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: