Dialog Kebudayaan Yang Muda Berbudaya di UNIDHA

Anggota DPRD Sumbar Hidayat: Generasi Muda Banggalah dengan Budaya Sendiri!

Kamis, 07 September 2023, 15:25 WIB | Ragam | Kota Padang
Anggota DPRD Sumbar Hidayat: Generasi Muda Banggalah dengan Budaya Sendiri!
Dialog Kebudayaan Yang Muda Berbudaya di UNIDHA Anggota DPRD Sumbar Hidayat: Generasi Muda Banggalah dengan Budaya Sendiri!
IKLAN GUBERNUR

Kemudian ada tanggung jawab kolektif atau tanggung jawab sosial, nilai-nilai kegotong-royongan, sensitivitas generasi muda terhadap lingkungan sosial juga mulai berkurang. Tahun 2023 sebanyak 47.000 ribu jiwa di Sumatera Barat berada pada kondisi kemiskinan ekstrim. Jika kita mengambil nilai-nilai luhur masa lalu yang merupakan nilai-nilai kearifan lokal Sumatera Barat, harusnya kita malu dan berupaya sekuat tenaga untuk membantu mengatasi masalah tersebut.

Fungsi Anggota DPRD sendiri antara lain mengacu kepada UU no 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, bahwasanya DPRD itu adalah rezim pemerintahan daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah bersama pemerintah daerah. Setiap program kegiatan dan anggaran yang diinginkan oleh Gubernur termasuk juga DPRD, harus dibahas dulu di tingkat TAPD bersama badan negara, yaitu DPRD bersama tim Pemprov Sumatera Barat.

"Apa yang mau kita rencanakan, program apa yang harus kita lanjutkan dan berapa anggarannya. Seperti itu peran dan fungsinya. Dalam konteks seperti itu, Anggota DPRD dimungkinkan secara konstitusi untuk mengusulkan program dan anggaran pada sebuah kegiatan," tuturnya.

Baca juga: Datuak Febby: Keterbukaan Informasi Penting untuk Efisiensi Anggaran

"Bagi anggota DPRD tentu ini berdasarkan referensi, observasi, diskusi serta pertemuan-pertemuan masyarakat baik formal ataupun informal, itu yang menjadi dasar pemikiran kami untuk mengusulkan program. Antara lain juga peningkatan program penyadaran pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya Sumatera Barat, nilai-nilai budaya kearifan lokal kita. Ini juga yang menjadi dasar kenapa kami mengusulkan program dialog kebudayaan," jelas.

Hidayat Atas dasar itu juga Hidayat bersama DPRD Provinsi Sumbar mengusulkan Perda tentang pemajuan kebudayaan, cagar budaya dan museum. Ada empat isu krusial yang akan dipancangkan pada pasal-pasal di Perda tersebut. Diantaranya adalah apresiasi terhadap seni budaya termasuk juga apresiasi terhadap konten kreator, orang-orang berkesenian dan pemusik jalanan. Ada diplomasi Kebudayaan, pendekatan kelembagaan, partisipasi publik dengan membentuk dewan Kebudayaan Sumatera Barat yang didalamnya nanti terdapat akademisi, praktisi, budayawan, pemerhati kebudayaan, ulama, cadiak pandai dan bundo kanduang. Itulah yang akan merawat sekaligus memfilterisasi perilaku anak-anak muda, generasi penerus bangsa yang direkomendasikan kepada pemerintah daerah dalam bentuk program dan anggaran.

"Komunitas-komunitas yang biasanya konsen berbicara tentang kebudayaan, berdialektika kebudayaan secara menyeluruh, sekarang sudah mulai berkurang. Padahal dahulunya ada taman budaya yang menjadi tempat untuk berdialektika, berdiskusi, baik secara berkesenian, mengapresiasi, mengkritisi sebuah karya seni, termasuk juga memberikan solusi antara Pemerintah Provinsi dengan pelaku seni, akademisi dan praktisi. Ini yang menjadi dasar pemikiran kita, kenapa ini kita lakukan, ada beberapa hal yang pertama itu ada potensi minimnya baik atraksi, harmonisasi, interaksi atas suku, bangsa, budaya dan agama di Sumatera Barat," Kata Hidayat.

Selain itu, kita juga memerlukan kurikulum berkearifan lokal, yang mana interaksinya dimulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal keoada generasi muda untuk bertanggungjawab, disiplin, mandiri, kompetitif dan sesuai juga dengan UU sistem nasional yang diharapkan. Sebagai anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Hidayat berperan dalam mengantarkan kembali nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau.

"Bagi saya karena memang ada background dari fakultas ilmu budaya, sesungguhnya tiap tahun, ada program-program yang coba kita gelontorkan melalui dinas kebudayaan, pendidikan dan pariwisata, diantaranya kemarin itu adalah apresiasi panggung seni budaya yang diikuti oleh belasan kelompok seni budaya yang kita tunjukkan di taman budaya dan di tempat permainan rakyat di Koto Tangah. Ini akan terus digelontorkan, tentu dalam konteks pemerintahan, kita kapasitasi biaya produksi, dokumentasi, publikasi dan semacamnya. Dan kemarin ini langsung mendapat apresiasi dari teman-teman dirjen kebudayaan," ucap Hidayat.

"Selain apresiasi panggung seni budaya, dialektika pada kebudayaan juga sering kita lakukan. Kita punya studio Kopi Pahit di daerah Padang baru, dan intens berdiskusi dengan mengundang para dosen dari berbagai perguruan tinggi, dengan mahasiswa, masyarakat. Poinnya adalah untuk menguatkan identitas Sumatera Barat dari perspektif kebudayaan," tambahnya.

Jika kembali berbicara tentang budaya di era digital, tentunya mau tidak mau pada akhirnya budaya akan berkombinasi bersama kemajuan zaman. Namun disini tentunya, dunia modern tidak boleh menghabisi keindahan dan keunikan tradisi lokal yang sudah diturunkan dari leluhur atau nenek moyang bangsa dahulu. "Sesungguhnya saya sepakat bahwa peradaban itu mengikuti perkembangan zaman, poin yang ingin saya katakan adalah ibaratkan ikan di dalam laut, walaupun ikannya berenang di air asin tapi ikannya tidak ikut asin. Kita tetap mengikuti perkembangan zaman yang ada di era digital, tapi nilai-nilai kearifan lokal harus tetap terjaga".

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: