Karena Garuda Indonesia Masih PKPU, Nevi Zuairina Minta Merger BUMN Aviasi Dilakukan Secara Matang

Jumat, 08 September 2023, 08:42 WIB | Politik | Nasional
Karena Garuda Indonesia Masih PKPU, Nevi Zuairina  Minta Merger BUMN Aviasi Dilakukan...
Anggota Komisi VI DPR RI Hj. Nevi Zuairina. IST
IKLAN BANK INDONESIA KAS KELILING

JAKARTA, binews.id — Anggota Komisi VI DPR RI Hj. Nevi Zuairina meminta, Kementerian BUMN dapat melakukan kajian secara matang terkait rencana merger maskapai penerbangan yakni PT Garuda Indonesia (Persero), Citilink dan Pelita Air atau perusahaan pelat merah aviasi.

Bundo Nevi begitu ia disapa, mengingatkan keuangan Garuda Indonesia saat ini masih belum membaik lantaran masih dalam status Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU. Belum lagi, lanjut Nevi, nasib Citilink dan Pelita Air saat ini juga belum terlalu baik.

"Langkah merger harus benar-benar dikaji secara matang. Jangan sampai bermaksud menyelamatkan Garuda Indonesia tapi malah membuat Citilink dan Pelita Air menjadi sekarat," tutur Nevi di Kompleks Parlemen.

Nevi juga meyakini bahwa merger dengan Citilink dan Pelita Air belum akan mampu menyelesaikan persoalan yang ada di Garuda Indonesia sampai ke akar-akarnya. Bahkan menurutnya, keadaan ini malah akan menimbulkan masalah baru. Ia menegaskan, bahwa Garuda Indonesia saat ini tengah berada dalam status PKPU sementara dimana proses pengadilan melarang kreditor untuk memaksa debitur dalam membayar hutangnya pada jangka waktu tertentu..

Baca juga: Nevi Zuairina: Transparansi dan Partisipasi Publik Jadi Kunci Hadapi Ancaman Krisis Energi Global

"Dalam kondisi PKPU sementara tersebut bisa saja kreditur merasa keberatan jika Garuda Indonesia melakukan penyimpangan terhadap rencana bisnisnya. Sehingga berpotensi PKPU dapat dicabut," tegas Nevi.

Politisi PKS ini kemudian menambahkan, penyelamatan Garuda Indonesia harus dimulai dengan keseriusan dalam penerapan good corporate governance secara baik dan konsisten. Hal ini, lanjut Nevi, perlu dilakukan dalam rangka menjamin kelangsungan perusahaan maskapai penerbangan itu secara berkelanjutan.

"Kemudian Garuda Indonesia supaya konsisten melaksanakan implementasi business plan yang telah disepakati. Jangan sampai tidak konsistennya Garuda Indonesia dalam mengimplementasikan business plan membuat para investor tidak berminat melakukan investasi, dan kreditur yang menyetujui PKPU berpikir ulang untuk mengajukan permohonan pencabutan PKPU," beber Nevi.

Meski demikian, Legislator asal Sumatera Barat ini, memahami bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan sekitar 200 pesawat. Perhitungan itu, lanjutnya, diperoleh dari perbandingan antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Baca juga: Legislator PKS Nevi Zuairina Dorong Pemerintah Siapkan Peta Jalan Jelas Terkait Rencana Pengurangan Jumlah BUMN

"Jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, terdapat 7.200 pesawat yang melayani rute domestik. Dimana terdapat 300 juta populasi yang rata-rata GDP (pendapatan per kapita) mencapai US$ 40 ribu. Sementara di Indonesia terdapat 280 juta penduduk yang memiliki GDP US$ 4.700. Itu berarti Indonesia membutuhkan 729 pesawat. Padahal sekarang, Indonesia baru memiliki 550 pesawat," pungkas Nevi Zuairina.

Halaman:

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: