SIEJ Bahas Kondisi Hutan Sumbar Lewat Pemutaran Hasil Liputan Deforestasi Yang Terjadi di Kalbar

Minggu, 02 Juni 2024, 11:42 WIB | Peristiwa | Kota Padang
SIEJ Bahas Kondisi Hutan Sumbar Lewat Pemutaran Hasil Liputan Deforestasi Yang Terjadi di...
Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup Indonesia (SIEJ) simpul Sumatera Barat adakan diskusi publik dan nonton bareng hasil liputan soal pembabatan hutan Kalimantan secara besar-besaran, Jum'at (31/05/2024). IST
IKLAN GUBERNUR

"Kalimantan saat ini sedang dicabik-cabik," katanya, Jum'at (31/05/2024).

Dalam liputan yang dia lakukan, Perusahaan bernama PT Mayawana Persada, salah satu perusahaan pemegang konsensi HTI adalah yang paling massif menggerus hutan. Kalimantan Barat sendiri kehilangan 1,25 juta hektar hutan primer sejak 2002-2020.

"Masyarakat yang hidup di sekitar hutan memilih melawan mempertahankan hutan yang tersisa. Mereka menghadapi berbagai ancaman termasuk pidana," kata Arief, Jum'at (31/05/2024).

Menyambung Arief, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumbar Wengki Purwanto, mengatakan hal senada. Sumbar kata Wengki tak luput dari deforestasi hutan akibat investasi oleh perizinan usaha.

Itu semua berdampak pada kerusakan lingkungan serta terjadinya bencana ekologis.

"Awal Januari 2024 kemarin kita sama-sama melihat bencana banjir/galodo yang terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan. Peristiwa itu tak sekadar kejadian alamiah yang terjadi di alam. Tapi juga karena pembabatan hutan secara ugal-ugalan yang terjadi di Taman Nasional Kerinci Seblat dan Pesisir Selatan," katanya, Jum'at (31/05/2024).

Kerusakan dan deforestasi itu massif terjadi di Sumbar. Selain di pesisir, di Solok Selatan penebangan hutan dengan skala besar. Bahkan pemerintah provinsi kata Wengki baru mengeluarkan izin HTI sebesar 43 ribuan hektar di Solsel. Ia takut banyaknya izin di Sumbar dibidang kehutanan ini makin mengeksploitasi hutan yang ada.

Pembicara lain Rifai Lubis, Direktur Yayasan Citra Mandiri Mentawai menceritakan hal senada. Dia sedari dulu hutan-hutan adat Mentawai sudah dieksploitasi untuk kebutuhan industri. Dia mengatakan Kerusakan ini tidak hanya berpengaruh terhadap alam, tapi juga pada kehidupan satwa endemik dan masyarakat adat.

Ia berharap penayangan liputan investigasi serupa harus terus dilakukan. "Lewat kerja-kerja jurnalis lah apa yang sering terlupakan dan diberitakan di Mentawai bisa diangkat," katanya. (bi/rel)

Halaman:
1 2
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: