Inflasi Sumbar Februari 2026 Terkendali di Level 0,3 Persen, Lebih Rendah dari Nasional
PADANG, binews.id -- Realisasi inflasi Provinsi Sumatera Barat pada Februari 2026 tercatat sebesar 0,3 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,68 persen (mtm), menunjukkan tekanan harga di Ranah Minang relatif lebih terkendali.
Lebih rendahnya inflasi Sumatera Barat didorong oleh terjadinya deflasi pada sejumlah komoditas pangan utama, khususnya cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, dan beras. Penurunan harga komoditas tersebut menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan harga secara umum.
Deflasi sejumlah komoditas itu ditopang oleh masifnya pelaksanaan berbagai intervensi pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama mitra terkait. Upaya tersebut dilakukan melalui operasi pasar dan pelaksanaan Gerakan Pasar Murah (GPM) di berbagai wilayah.
Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, menyampaikan bahwa sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan instansi vertikal menjadi kunci dalam menjaga stabilitas harga di tengah dinamika pasokan dan permintaan.
Baca juga: Sumbar Bidik Pertumbuhan 7,3 Persen, Gubernur Tekankan Inovasi dan Kepemimpinan Transformasional
Meski demikian, secara bulanan inflasi Februari tercatat lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang mengalami deflasi sebesar 1,15 persen (mtm). Peningkatan ini dipengaruhi oleh penurunan produksi pangan di tengah kenaikan permintaan seiring momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan, berlanjutnya kenaikan harga emas perhiasan, serta berakhirnya diskon tarif PAM pada Januari.
Komoditas pangan utama yang mendorong kenaikan inflasi Februari antara lain cabai merah, daging ayam ras, dan jengkol. Kenaikan harga cabai merah terjadi akibat meningkatnya permintaan di tengah berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Cabai merah tercatat mengalami inflasi sebesar 14,54 persen (mtm). Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan produksi di sejumlah sentra di Pulau Jawa dan Lombok akibat tingginya intensitas hujan. Sementara itu, harga daging ayam ras dan jengkol masing-masing mengalami inflasi 2,70 persen (mtm) dan 23,67 persen (mtm).
Kenaikan inflasi pangan yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada cabai rawit, bawang merah, kangkung, telur ayam ras, bayam, dan beras. Terjaganya pasokan cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi Sumbar lebih rendah dibandingkan nasional.
Deflasi beras juga didukung oleh berbagai langkah TPID dalam menjaga pasokan dan kelancaran distribusi, termasuk operasi pasar serta dorongan diversifikasi konsumsi jenis beras oleh masyarakat. Upaya tersebut dinilai efektif menahan tekanan harga komoditas strategis tersebut.
Secara spasial, seluruh kabupaten/kota penghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 mengalami inflasi, kecuali Kabupaten Pasaman Barat. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,85 persen (mtm), sedangkan terendah di Kota Padang sebesar 0,32 persen (mtm). Kota Bukittinggi juga mencatat inflasi sebesar 0,50 persen (mtm), sementara Kabupaten Pasaman Barat melanjutkan deflasi 0,13 persen (mtm) setelah sebelumnya deflasi 1,84 persen (mtm).
Penulis: Imel
Editor: Imel
Berita Terkait
- OJK Cabut Izin Usaha BPR Sungai Rumbai di Dharmasraya
- Ketua DPRD Sumbar Ajak Pelaku UMKM Naik Kelas Lewat Bimtek
- Dongkrak UMKM Lokal, Pemprov Sumbar Targetkan 10 Nagari Creative Hub Baru pada 2026
- Laris Manis...! KA Lembah Anai Rute Padang-Kayutanam (PP) Terjual 100 persen Lebih Selama Libur Paskah
- Inflasi Sumbar Maret 2026 Melandai, BI Sebut Upaya Pengendalian Harga Efektif






