Ubah Laku : Ini Kisah Saya yang Positif, Berjuang Melawan Covid-19
*oleh: Vinna Melwanti

Saya diberi tempat sebuah dipan. Di sebelah sejarak 2 meter, ada seorang bapak berkacamata, memakai levis. Sendirian. Di tangannya terpasang infus dan batuknya mengganggu ruang IGD berukuran 8x5 meter. Ia kedinginan meminta AC diturunkan, tapi tak bisa, sebab AC-nya sentral.
"Tak bisa pak, alat-alatnya harus dalam kondisi dingin,"jawab petugas medis yang ternyata wanita, karena baju APD yang seragam susah membedakannya jika mereka belum bersuara.
Saya ditidurkan di sini, langsung diinfus, diambil darah lalu disuruh menunggu 3 jam, sebab kamar belum tersedia. Saat menunggu itulah batuk berbusa putih, kini sudah berdarah. Tiap batuk, tiap berdarah. Tiap berdarah berlembar-lembar tisu habis. Sehabis batuk, dada serasa mau pecah. Sakitnya masih ada, batuk terjadi lagi, demikian seterusnya.
Walau sakit yang tak tertahankan, saya memperhatikan sekeliling. Hanya ada dua petugas medis malam dini hari. Satu suster perempuan dan satunya dokter jaga. Dia duduk di meja, di tengah-tengah 8 tempat tidur IGD. Semua pandangan pasien IGD tanpa tirai itu tepat memandang keduanya yang duduk memainkan laptop.
Dua jam berlalu. Saya menunggu dengan pasrah. Tak bisa tidur, batuk terus saja bertalu. Dinginnya tak usah disebut. Dua selimut yang melekat di tubuh saja tak mampu meredam. Di sisi lain, walau dingin, anehnya baju ini sudah basah lagi. Keringat demam mengucur tak henti. Sudah hampir hal sepekan seperti ini saya alami.
Akhirnya sekitar pukul 03.00 WIB, kamar saya tersedia. Saya pasien terakhir di ruangan IGD. Sejak tadi, satu persatu pasien sudah pergi. Mereka mungkin sudah menunggu sejak pagi. Saya dibantu turun ranjang dan didorong dengan kursi roda. Perawat IGD itu bernama Shinta, sebagaimana tertulis di punggung baju APD nya. Dia meletakan botol infus dan tabung oksigen di pangkuan saya dengan cekatan.
Sambil mendorong kursi roda, dia juga menggotong semua bawaan saya. Sendirian. Padahal ransel saya dan dua tentengan besar yang isinya random itu agak berat. Kok tidak ada petugas lain ya yang membantu, kata saya dalam hati. Bukankah perawat IGD harus tetap standby di IGD. Atau setidaknya begitu pengetahuan saya yang selalu langganan rawat di RS tiap tahunnya."Tidak kak, sudah SOP tim medis covid ya seperti ini. one person multy duty,"kata Shinta yang terlihat kesusahan membuka pintu koridor ruangan dengan semua bebannya. Luar biasa, bisik saya.
Sepanjang lorong Rumah Sakit, semuanya berwarna putih. Saya seperti masuk labirin. Lurus, belok kiri, belok kanan, lurus, belok kiri. Kursi roda berbunyi berderik dan bergoyang. Kala saya perhatikan lantai ini, ternyata papan. Begitupula dengan semua pembatasnya, semua dari papan yang dicat putih. Sama putihnya dengan baju hazmat tim medis yang berlalu lalang. Saya seperti masuk ke sebuah laboratorium NASA.
Tiba-tiba dorongan kursi terhenti. Saya yang sesak nafas teramat dalam berpikir sudah sampai di depan kamar rawat. Ternyata saya diserahterimakan oleh petugas berseragam sama di tengah lorong. Sembari menunggu keduanya berdiskusi, saya perhatikan labirin ini seperti pabrik yang terorganisir. Banyak petugas medis yang bergerak cepat. Ada yang meletakan barang di pinggir koridor. Sesaat dia berlalu, petugas lainnya dari lorong sebelah mengambil barang tersebut. Persis seperti semut bekerja. Mereka bekerja dalam diam. Sistematis.
Saya lihat ada tumpukan air mineral. Ada tumpukan kantong limbah medis dan lainnya. Setiap mereka mempunyai HP tablet yang telah disarungi plastik. Kadang mereka mengetik namun acap berkomunikasi dengan mode laudspeaker."Ini ibu Vinna langsung masuk kamar wing dua. Atau digabung 3 pasien lainnya pak?"sayup-sayup terdengar saat mereka berkoordinasi, tapi tubuh ini sudah tak bisa diajak kompromi. Sebentar lagi masuk subuh. Dingin, kantuk dan sesak. Saya terus didorong, pintunya susah dikuak. Saya makin batuk, jalan kian jauh. Sepi.
Makin Memburuk
*Jurnalis Perempuan
Opini Terkait
- Musfi Yendra: Standar Layanan Informasi Publik
- Musfi Yendra: Keterbukaan Informasi Publik Nagari
- Nevi Zuairina: Refleksi Energi Indonesia Tahun 2024 dan Harapan Menuju 2025
- Misdawati, S.Pd, M.Pd: Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui GAME-PAQ
- Musfi Yendra: Keterbukaan Informasi Publik di Era Presiden Prabowo
Refleksi Energi Indonesia Tahun 2024 dan Harapan Menuju 2025
Opini - 05 Januari 2025
Oleh: Nevi Zuairina