Cerita Dibalik Demo Warga Air Bangis Pasaman Barat

Royani dan Keresahan Keluarganya Saat Diminta Pulang ke Air Bangis

Minggu, 06 Agustus 2023, 12:42 WIB | Ragam | Kota Padang
Royani dan Keresahan Keluarganya Saat Diminta Pulang ke Air Bangis
Royani saat ditemui di Masjid Raya Sumbar, Jumat (4/8/23). mg-Melva
IKLAN GUBERNUR

Menurutnya, jika lahan tersebut digusur, maka sekolah anak-anaknya akan terputus. Royani tidak tahu lagi harus mencari biaya hidup bagaimana, karena telah bergantung lebih dari 20 tahun disana.

Royani berharap perintah gusuran itu bisa dicabut agar ia dan warga lainnya bisa bekerja dan hidup dengan tenang. Royani mengatakan bahwa ia tidak mencari kekayaan, hanya mencari kehidupan untuk menyekolahkan anak-anaknya.

"Dari jam 6 pagi udah di lahan itu untuk kerja, anakku waktu kecil-kecil nggak pernah menengok orang, kutanamkan niatku disana kalo ada rezeki, ku sekolahkan anakku kemana orang itu mau. Itulah niatku waktu dulu masuk kesana, jadi kalo digusur lahan kami, putuslah sekolahnya, sama lah kayak aku itu, nggak sekolah, entah gimana lah kami kalo digusur itu,"

Baca juga: Didampingi Kepala BPBD, PJs Bupati Sijunjung Tinjau Lokasi Terdampak Banjir Bandang di Sumpurkudus

"Memang seluruhnya ini petani ini, kami nggak tau lah dimana letak kesalahan kami, ditanamlah kacang, jagung, cabe, bermalamlah ditengah hutan-hutan itu kami, barulah ditanam sawit, udah ada 16 tahun sekarang baru mau di ambil. Mau menggarap tanah ada suratnya dari Ninik mamak, kalo Ninik mamak bilang jangan lebih dari dua hektar, segitu kami kerjakan nya,"

"Lebar lagi disitu tanahnya, sikitnya tanah itu cuma untuk biaya anak sekolah, kalo indak nanam cabe gaada uang pasarku, kalo uang sawit untuk sekolah anak, empat sekolah kiralah itu berapa duitnya," katanya.

Royani juga menceritakan keadaan di tempat tinggal mereka baru-baru ini. Sudah banyak polisi yang berjaga dan mengawasi mereka. Ketika menjual hasil panen sawit, mereka diwajibkan untuk menjualnya ke HTR koperasi sekunder sedangkan harga yang ditawarkan murah.

"Kadang-kadang padam, kadang-kadang bangkit, yang parahnya ditangkap anak kami, ada bapak anaknya enam orang ditangkap menimbang sawit, sawitnya miliki masyarakat. Disana sekarang ada banyak oknum entah apalah itu, menggertak-gertak, kadang-kadang orang itu nggak boleh panen, nggak usah panen, berhenti dua bulan datang lagi, menimbang toke kami disana, nggak dijual ke peron sekunder orang itu, itu yang ditangkap, udah ditangkap dua orang, belum keluar sampai sekarang. Itu yang mau kami bebaskan sama lahan kami," paparnya.

Selama menginap di Masjid Raya Sumbar, Royani bersyukur ia dan warga lainnya diizinkan untuk tidur di dalam masjid dan tak kekurangan makan dan minum, meksipun sedikit, ia dan anak-anaknya bisa kenyang. Mengingat ia hanya membawa bekal hanya untuk dua hari saja. Banyak yang bersedekah tapi ia tidak mengetahui dari siapa, Royani mengatakan bahwa biar Tuhan yang akan membalasnya. Namun, karena kondisi yang menguras tenaga karena harus berjalan kaki ke kantor gubernur, melakukan demo dari pagi hingga sore dan juga membawa anak-anak, banyak juga yang sakit. Bagi Royani sendiri, ini harus ia perjuangkan demi kehidupannya dan juga anak-anaknya.

"Yang sakit udah banyak, yang mimisan udah banyak, jadi macam mana lagi anak kami yang masih kecil. Memang aku kayak gini masa depanku, tapi anak-anakku terputus kan masa depannya. Yang berat yang kuliah dua itulah, tambah lagi yang tingkat SMA, tingkat Tsanawiyah mau tamat juga ini," tukasnya.

"Pokoknya terketuklah hati pemerintah menengok anak-anak ini mau sekolah, saking sakitnya aku dulu waktu gak mampu orang tuaku sekolahkan, itulah jadi petani aku, kuat aku disana biar mampu menyekolahkan anak, tapi sekarang kita mau digusur, anakku itu masa depanku, mau mengangkat derajat orang tuanya," tambahnya.

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: