Gerakan Kurva Landai Jadi Solusi Penurunan Angka Kasus COVID-19

Sabtu, 09 Mei 2020, 19:26 WIB | Kesehatan | Nasional
Gerakan Kurva Landai Jadi Solusi Penurunan Angka Kasus COVID-19
Gerakan Kurva Landai Jadi Solusi Penurunan Angka Kasus COVID-19
IKLAN GUBERNUR

JAKARTA, binews.id - Ketua Tim Pakar Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa cara untuk mengurangi angka penambahan kasus COVID-19, adalah dengan melakukan "Gerakan Kurva Landai", yang melibatkan kepedulian semua orang untuk tidak tertular dan menulari virus SARS-Cov_2 atau corona jenis baru.

"Maka kita harus tau dan paham bahwa satu-satunya cara untuk melandaikan kurva adalah memastikan bahwa kita tidak menularkan (virus) dan orang lain tidak menularkan kepada kita dengan mengubah perilaku," ujar Wiku dalam dialog yang mengambil tema "Gerakan Kurva Landai" di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu (9/5).

Tentunya hal tersebut harus diimbangi dengan perubahan perilaku dan kesadaran masing-masing untuk melakukan anjuran protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir, jaga jarak, menggunakan masker dan menjaga imunitas tubuh.

Wiku optimis apabila seluruh masyarakat melaksanakan "Gerakan Landai Kurva" maka Indonesia segera terbebas dari penularan virus corona jenis baru tersebut.

Baca juga: Harkitnas ke-116, Gubernur Mahyeldi Ingatkan Pentingnya Memberikan Teladan pada Generasi Muda

"Kalau kita semua melakukan hal yang sama, maka virus itu tidak akan mampu menulari antar manusia," jelas Wiku.

Berbicara mengenai waktu dan siapa yang dapat mengendalikan kurva tersebut, menurut Wiku adalah semua orang

"Sebenarnya yang bisa melandaikan termasuk kapannya adalah kita semua. Kita harus bersama-sama bergerak," tambah Wiku.

Menurut data yang dikumpulkan dalam platfrom data Bersatu Lawan COVID-19 maka didapatkan gambaran bahwa gejala yang paling umum apabila seseorang terinfeksi virus adalah adalah batuk, kemudian demam, sakit tenggorokan, gangguan pernafasan dan letih lesu.

Baca juga: BNPB Pastikan Dampingi Terus Daerah Terdampak Bencana Banjir Bandang

"Batuk ini yang paling tinggi. Kemudian demam," jelas Wiku.

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: