Membangun Harapan Pascabanjir, Keceriaan Anak-Anak Batu Busuk Setelah Kembali Belajar Tatap Muka
PADANG, binews.id -- Lorong-lorong Diklat PT Semen Padang yang biasanya bergema oleh ketukan sepatu peserta pelatihan kini berubah wajah. Kali ini, yang mengisi ruang adalah langkah-langkah kecil yang berlarian, tawa yang lepas, dan suara membaca anak-anak SD Bustanul Ulum Semen Padang. Keseriusan rapat dan pelatihan yang biasanya menumpuk di setiap sudut ruangan kini lenyap, digantikan riuh rendah keceriaan yang baru, meski lahir dari kepedihan.
Di antara riuh rendah tawa, guru-guru tampak bergantian membimbing mereka untuk membaca, menulis, dan berhitung. Suara mereka pun menembus ruang, menciptakan ritme yang berbeda dari rutinitas diklat pada umumnya. Setiap kata dan tawa seolah menjadi obat kecil bagi luka yang belum sepenuhnya sembuh. Mata anak-anak bersinar, memberikan cahaya keberanian yang tak mudah padam, meskipun bencana baru saja merenggut sebagian dunia mereka.
Anak-anak ini adalah penyintas banjir bandang di Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh. Mereka pernah menyaksikan air keruh datang dengan ganas, menyeret rumah, merobohkan dinding, serta menghancurkan benda-benda yang selama ini menjadi bagian hidup mereka. Malam-malam panjang di pengungsian, suara hujan yang memicu kecemasan, dan ketidakpastian hari esok masih menghantui ingatan mereka.
Dari pantauan media ini pada Kamis (8/1/2026) pagi, salah seorang anak bernama Ghazy Al Gifard, yang merupakan bocah kelas V, tampak duduk dengan tenang. Tangannya menggenggam buku tulis, pensil bergerak perlahan di atas kertas. Sesekali, ia menatap jendela, seolah memeriksa apakah semuanya aman. Saat ditanya tentang kelas barunya, senyum kecil merekah di wajahnya. "Di sini kami nyaman sekali belajar, Pak. Ruangannya ber-AC," kata Ghazy polos.

Bocah berusia 10 tahun ini juga menyampaikan bahwa AC bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menjadi simbol perlindungan—dinding kokoh, atap yang tak bocor, dan ruang yang aman dari bayang-bayang banjir. Sekolah lamanya yang tidak jauh dari sungai masih memicu rasa trauma ketika awan gelap bergelantungan di langit Batu Busuk. "Kami masih takut sekolah di sana kalau cuaca buruk, apalagi di belakang sekolah juga ada bukit tinggi menjulang. Kami takut nanti longsor," bisiknya pelan.
Ghazy merupakan salah satu bocah yang rumahnya hanyut diterjang banjir. Tidak ada yang tersisa, kecuali kenangan tentang tawa keluarga, aroma rumah, dan permainan sederhana di halaman belakang rumahnya. Kini, Ghazy bersama keluarganya tinggal di sebuah kontrakan di Limau Manis, sekitar lima kilometer dari Batu Busuk. "Sebelum ngontrak, kami sempat tinggal di tempat pengungsian di SDN 02 Cupak Tangah, dan di sana kami menjalani hari-hari dengan tidur seadanya serta rutinitas yang serba terbatas," ujarnya.
Di meja lain, Sheryl Philomela Sodiq tampak ceria di tengah teman-temannya. Meski sekolah lamanya relatif aman dari banjir, ruang belajar di Diklat PT Semen Padang memberinya rasa aman yang berbeda. Setiap hari ia diantar-jemput menggunakan bus perusahaan—sebuah perhatian sederhana yang membuatnya merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun demikian, trauma tetap ada. Bencana dahsyat yang melanda kampung halamannya juga merenggut kebahagiaannya, yaitu rumah tempat ia berteduh.
"Saya masih trauma, Pak. Rumah saya hanyut tak membekas," ucap Sheryl pelan. Kini, ia dan keluarganya tinggal di Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, tak jauh dari SMP Negeri 23 Padang. Rasa kehilangan rumah dan kenangan masa kecil masih tersisa. Namun begitu, gadis kecil yang beranjak dewasa ini berusaha untuk terus belajar menata kembali hari-harinya dengan senyum, meski hati masih rapuh. "Kami tidak akan menyerah, meski bencana telah menimpa kami. Kami harus bangkit untuk bisa meraih mimpi-mimpi kami," ucapnya.
Pelajar SD Bustanul Ulum lainnya, Verdiano Tauvani, juga menyimpan kenangan pahit. Ketika banjir datang, ia menyaksikan rumahnya hanyut, dan ia bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah neneknya yang masih berada di kawasan Batu Busuk. Namun, karena luapan banjir yang begitu besar dan deras, bagian belakang rumah neneknya itu juga roboh diterjang banjir.
Kini, Verdiano bersama keluarganya tinggal di sebuah kontrakan di kawasan Piai, Kecamatan Pauh. Jauh dari sungai, namun bocah 10 tahun ini mengaku masih trauma, dan kedua orang tuanya kini berupaya membangun kembali kehidupan dari sisa-sisa yang ada. "Saya juga masih trauma. Kadang-kadang, saya masih teringat air keruh datang dan menghanyutkan rumah, serta semua benda yang ada," katanya lirih sambil menatap buku tulisnya.
Penulis: Imel
Editor: Imel
Berita Terkait
- Ketua DPRD Sumbar Dorong Penguatan Literasi Sekolah untuk Tekan Kenakalan Remaja
- Wamendikdasmen dan Gubernur Mahyeldi Resmikan Revitalisasi Sekolah di Kota Padang
- Ketua DPRD Sumbar Minta MBG SPPG Jati Perkuat Ekonomi Lokal, Tak Hanya Fokus Gizi Anak
- Gubernur Sumbar Berduka, Pimpinan Pondok Modern Gontor Prof. Amal Fathullah Zarkasyi Wafat
- Ombudsman Temukan Maladministrasi Pengelolaan Uang Komite di SMKN 10 Padang


