Satgas Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

JAKARTA, binews.id - Perkembangan pandemi COVID-19 di tingkat dunia cukup memprihatinkan akibat kenaikan kasus sangat signifikan dalam 2 minggu terakhir. Kenaikan terjadi di negara dari berbagai benua di tengah ancaman varian Omicron. Menyikapi hal ini, Indonesia harus mewaspadai dan mencermati tren kenaikan kasus dalam negeri, terutama dengan ditemukannya kasus Omicron di dalam negeri.
Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito memaparkan perkembangan di tingkat global yang dapat dijadikan pembelajaran bagi Indonesia untuk mencegah potensi gelombang ketiga. Dari data per 7 Januari 2022 mencatat, penambahan kasus positif di dunia mencapai 2,7 juta kasus dalam 1 hari. Padahal, pada Desember 2021, penambahan kasus berkisar 500 - 600 per hari.
"Angka kenaikan saat ini menjadi rekor tertinggi melebihi angka pada masa lonjakan kasus sebelumnya, yaitu 1 juta kasus dalam 1 hari," Wiku dalam Keterangan Pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (11/1/2022) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Kondisi saat ini, ada 12 negara sedang mengalami kenaikan kasus mingguan yang sangat tajam, bahkan melebihi gelombang sebelumnya. Baik di benua Amerika, Eropa, Asia hingga Australia.
Baca juga: Membanggakan, Empat Siswa SMAN 1 Padang Panjang Melaju ke OSN Tingkat Nasional
Diantaranya, Kanada kasus mingguannya naik 19 kali lipat, dari 16 ribu menjadi 300 ribu kasus. Sedangkan Amerika serikat kenaikan mingguannya 10 kali lipat, dari 500 ribu menjadi 5 juta kasus. Lalu, Australia naik 6 kali lipat, dari 9 ribu menjadi 550 ribu kasus. Di Inggris naik 4 kali lipat dari 300 ribu menjadi 1,2 juta kasus.
Beberapa negara Eropa lainnya seperti Perancis naik 36 kali lipat dari 50 ribu menjadi 1,8 juta kasus, Italia nIk 11 kali lipat dari 90 ribu menjadi 1 juta kasus, Jerman naik 2 kali lipat dari 150 ribu menjadi 350 ribu kasus. Serta Belanda naik 2 kali lipat dari 85 ribu menjadi 160 ribu kasus.
Termasuk juga negara tetangga di Asia turut mengalami hal yang sama. Antara lain, Jepang naik 10 kali lipat dari 30 ribu menjadi 300 ribu kasus, Vietnam naik 5 kali lipat dari 25 ribu menjadi 136 ribu kasus, Thailand 3 kali lipat dari 16 ribu menjadi 40 ribu kasus, dan Singapura naik 2 kali lipat dari 2 ribu menjadi 5 ribu kasus.
Meski demikian, sejauh ini kenaikan kasus di negara-negara tersebut tidak disertai kenaikan kematian signifikan. Namun, perlu dicermati, terdapat kenaikan kematian secara perlahan di beberapa negara. Salah satunya, terjadi di Vietnam.
Baca juga: Angka Kesembuhan COVID-19 Terus Meningkat Mencapai 5.892.126
"Hal ini menjadi pembelajaran kita bersama, meskipun varian Omicron dilaporkan bergejala ringan bahkan tanpa gejala, ternyata masih banyak faktor yang mempengaruhi angka kematian. Namun, beberapa faktor perlu dianalisis lebih lanjut," jelas Wiku.
Penulis: Imel
Editor: BiNews
Berita Terkait
- Mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan UNP Laksanakan Praktik Kerja Lapangan di Kepulauan Riau
- Hj. Nevi Zuairina Minta Ada Transformasi Kesehatan dan Pariwisata di KEK Sanur
- PP IPPNU X Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama Gelar Peer Educator Cegah Stunting
- Gubernur Mahyeldi, Direktur dan Rektor UNP Temui Wapres Usulkan Pengembangan RSAM Bukittinggi
- Bio Farma Ajak Perempuan di Kalimantan Tengah Cegah Kanker Serviks
Progul Dokter Warga Mulai Layani Masyarakat Kota Padang
Kesehatan - 24 Februari 2025
Jaga Kesehatan Pegawai, KAI Divre II Sumbar Gelar Medical Check Up
Kesehatan - 19 Februari 2025
Mahyeldi Jalani Medical Check-Up di RS Unand Jelang Pelantikan
Kesehatan - 14 Februari 2025
KAI Divre II Sumbar Gelar Pengobatan Gratis terhadap 228 Pensiunan
Kesehatan - 10 Februari 2025