Workshop Bersama Wartawan Sumatra Barat
BEI dan OJK Ingatkan Soal Berinvestasi di Pasar Modal

PADANG, binews.id --Bagi para investor perlu memperhatikan ketika berinvestasi di pasar modal. Harus paham tujuan berinvestasi, jangan hanya sekadar ikut-ikut dan tidak tau prestasinya apa, jangka waktunya berapa dan apa yang diharapkan dari investasi tersebut.
Demikian disampaikan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yusri, saat Workshop Wartawan Sumatra Barat (Sumbar) dengan tema "Perlindungan Investor Pasar Modal yang diselenggarakan oleh Bursa Efek Indonesia".
"Selain itu kita harus memahami risiko dan sumber dana yang harusnya digunakan untuk berinvestasi ke pasar modal serta pastikan semua memiliki izin yang sah. Jangan sampai ikut investasi bodong dan merugikan diri sendiri," kata Yusri, Kamis (18/8/2022) di salah satu kafe di Padang.
Yusri menjelaskan, dari survei yang dilakukan OJK literasi di Sumbar termasuk rendah. Ada empat survei literasi yaitu pasar modal, perbankan, asuransi dan dana pensiun. Tingkat literasi di pasar modal termasuk yang terendah, seperti pada tahun 2013 tingkat literasinya hanya 3,79 persen. Tahun 2014 dari 100 masyarakat itu yang paham pasar modal hanya 4,4 persen yang ikut berinvestasi. Survei terakhir di tahun 2019 hanya 4,92 persen yang paham dengan pasar modal di Sumbar.
Baca juga: Ojk Gelar Hari Indonesia Menabung Sumatera Barat 2024
"Survei tertingginya yaitu perbankan, tingkat literasinya 36 persen, asuransi 19 persen, dana pensiun 14 persen, pegadaian 17 persen dan lembaga pembiayaan 15 persen," ujarnya.
Lebih jauh ia menjelaskan, OJK juga melakukan survei di tingkat inklusi yang juga termasuk yang survei terendah. Pada tahun 2013 hanya 11 orang yang mengakses pasar modal, tahun 2019 dari 1000 orang yang di survei hanya 115 orang yang mengakses pasar modal.
"Yang terbanyak itu perbankan, lembaga pembiayaan dan asuransi. Selama 10 tahun terakhir jumlah kerugian masyarakat atas investasi ilegal yaitu 117,44 triliun terhitung daritahun 2011 sampai tahun 2021. Selama tahun 2021 angka kerugian mencapai setengan triliun rupiah dan jumlah korban sekitar 63 ribu orang," ucapnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia cabang Sumatra Barat (Sumbar) Early Saputra mengatakan, dalam berinvestasi di pasar modal, pihaknya harus memperhatikan aspek 3P yaitu paham, punya dan pantau. Selain itu, sebelum berinvestasi juga harus memahami tujuan keuangan karena masing-masing orang akan berbeda tujuannya.
Baca juga: Pertumbuhan Sektor Jasa Keuangan di Sumatera Barat Dorong Kemajuan Ekonomi Daerah
"Tujuan ikut berinvestasi keuangan juga harus paham aksinya. Jangan sampai terjerat membeli saham berdasarkan referensi teman. Jika sudah mempunyai akun pun harus berhati-hati dengan orang yang mengaku bursa dan jangan sampai tertipu," tuturnya menutup.
Penulis: Imel
Editor: BiNews
Berita Terkait
- Kota Padang Perkuat Ekonomi Kreatif Lewat Bimtek Branding Digitalisasi
- Permudah Akses Perbankan untuk UMKM, Pemko Padang Bersinergi dengan CIMB Niaga
- Evaluasi untuk Adinata Syariah 2025, Gubernur Mahyeldi Targetkan Sumbar Kembali Raih Juara Umum
- OJK: Likuiditas Perbankan 2025 Masih Ketat, Sektor Pertanian Perlu Digenjot
- Wakil Ketua DPRD Sumbar Iqra Chissa Inisiasi Pemprov dan Pertamaina Terkait Stabilisasi Stok BBM