Provinsi Sumatera Barat Mengalami Deflasi pada Maret 2023

Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan dua kota di Provinsi Sumatera Barat tercatat mengalami deflasi pada Maret 2023. Berdasarkan Berita Resmi Statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat, IHK umum Sumatera Barat tercatat deflasi sebesar --0,09% (mtm), menurun dibandingkan realisasi Februari 2023 yang mengalami inflasi sebesar 0,13% (mtm). Secara tahunan, inflasi pada Maret 2023 tercatat sebesar 5,97% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Februari 2023 yang sebesar 6,87% (yoy).
Dikatakan Direktur Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumbar, Endang Kurnia Saputra, mengatakan, secara spasial, Kota Padang mengalami deflasi sebesar -0,10% (mtm) pada Maret 2023, atau mengalami penurunan dibandingkan realisasi periode sebelumnya yang sebesar 0,13% (mtm). Realisasi ini membawa Kota Padang berada pada urutan ke-20 dari 25 kota yang mengalami deflasi di Indonesia. Secara tahunan, realisasi inflasi Kota Padang sebesar 5,94% (yoy), menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan berada pada peringkat ke-19 dari 90 Kabupaten/Kota yang mengalami inflasi di Indonesia.
"Sementara itu, perkembangan harga bulanan di Kota Bukittinggi turut mengalami deflasi dengan realisasi sebesar -0,03% (mtm), menurun dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,10% (mtm). Deflasi Kota Bukittinggi berada pada urutan ke-24 dari 25 kota yang mengalami deflasi. Secara tahunan, realisasi inflasi Kota Bukittinggi sebesar 6,08% (yoy), menurun dibandingkan periode sebelumnya dan berada di urutan ke-17 dari 90 kota yang mengalami inflasi di Indonesia," katanya. Deflasi gabungan dua kota di Sumatera Barat pada Maret 2023 didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang deflasi sebesar -0,75% (mtm) dengan andil -0,24% (mtm). Deflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau bersumber dari penurunan harga komoditas cabai merah, beras, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, bawang merah, dan tomat dengan andil masing-masing sebesar -0,18%; -0,06%; -0,03%; -0,03%; -0,02% (mtm).
"Penurunan harga bahan pangan seperti cabai merah, beras, bawang merah, dan tomat secara umum didorong oleh meningkatnya pasokan seiring dengan memasuki periode panen raya holtikultura bagi beberapa daerah sentra produksi termasuk Sumatera Barat. Sementara itu, penurunan harga komoditas ikan tongkol/ikan ambu-ambu didorong oleh peningkatan hasil tangkapan nelayan di tengah permintaan komoditas ikan yang terjaga," ujarnya. Deflasi lebih lanjut tertahan oleh inflasi kelompok transportasi yang tercatat sebesar 0,46% (mtm) dengan andil 0,07% (mtm), disumbang oleh komoditas angkutan udara dan bensin. Tarif angkutan udara mengalami kenaikan didorong oleh peningkatan permintaan musiman masyarakat terhadap moda transportasi udara di saat momentum Ramadhan.
Baca juga: Perkembangan Inflasi Sumatera Barat: Deflasi pada Bulan Juli 2024
"Sementara itu, kenaikan harga bensin terjadi akibat kebijakan penyesuaian harga BBM non subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo sejak awal Maret 2023. Komoditas angkutan udara dan bensin mengalami inflasi dengan andil masing-masing sebesar 0,04% (mtm) dan 0,03% (mtm)," paparnya. Menurunnya tekanan inflasi merupakan dampak dari sinergi yang kuat dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat dalam mengendalikan harga dan memastikan ketersediaan pasokan. Berbagai upaya pengendalian inflasi daerah yang telah dilakukan pada Maret 2023 antara lain: 1) Penyelenggaraan High Level Meeting (HLM) dan Rakor TPID tingkat Provinsi maupun tingkat Kabupaten/Kota dalam rangka menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan saat momentum Ramadhan.
Dilanjutkannya, 2) Penyelenggaraan Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Sumatera Barat Tahun 2023; 3) Penyelenggaraan operasi pasar maupun pasar murah di berbagai titik bekerja sama dengan Toko Tani Indonesia Center (TTIC) dan Bulog; 4) Optimalisasi peran Bulog sebagai hub logistik pangan dan TTIC dalam upaya distribusi komoditas pangan; 5) Pemantauan harga dan pasokan oleh satgas pangan serta Pemerintah Daerah di beberapa pasar Kabupaten/Kota; 6) Pencanangan Gerakan Tanam Perkarangan Komoditas Cabai Merah maupun monitoring dan evaluasi keberlanjutan program di beberapa Kabupaten/Kota; 7) Perluasan Kerjasama Antar Daerah (KAD).
Serta 8) Komunikasi efektif melalui penerbitan Surat Gubernur Sumatera Barat perihal Upaya Pengendalian Inflasi Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 2023 serta berbagai kegiatan sosialisasi terkait belanja bijak maupun diversifikasi konsumsi serta produk olahan melalui berbagai kanal."Ke depan, TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi agar inflasi IHK dapat terkendali dalam sasarannya. Sinergi terus dilanjutkan dengan memperkuat implementasi program GNPIP Sumatera Barat tahun 2023. Berbagai upaya menjaga inflasi terkendali dalam sasaran tersebut pada gilirannya diharapkan dapat mendukung upaya mendorong pertumbuhan ekonomi menuju Sumbar Madani Unggul dan Berkelanjutan," katanya. (bi)
Penulis: Imel
Editor: BiNews
Berita Terkait
- Kota Padang Perkuat Ekonomi Kreatif Lewat Bimtek Branding Digitalisasi
- Permudah Akses Perbankan untuk UMKM, Pemko Padang Bersinergi dengan CIMB Niaga
- Evaluasi untuk Adinata Syariah 2025, Gubernur Mahyeldi Targetkan Sumbar Kembali Raih Juara Umum
- OJK: Likuiditas Perbankan 2025 Masih Ketat, Sektor Pertanian Perlu Digenjot
- Wakil Ketua DPRD Sumbar Iqra Chissa Inisiasi Pemprov dan Pertamaina Terkait Stabilisasi Stok BBM