Bank Indonesia Optimistis Inflasi Sumbar Kembali Terkendali pada 2026
PADANG, binews.id - Sumatera Barat tercatat mengalami deflasi sebesar 0,24 persen (month to month/mtm) pada November 2025. Namun secara tahunan, inflasi masih berada di level 3,93 persen (year on year/yoy). Dengan kondisi tersebut, inflasi Sumatera Barat hingga November 2025 tercatat sebesar 3,62 persen (year to date/ytd), berada di atas rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,51 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, menyebut terdapat dua peristiwa utama yang mendorong inflasi lebih tinggi sepanjang 2025, yakni cuaca kemarau pada Juni hingga September serta bencana hidrometeorologi yang terjadi menjelang akhir tahun. Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat inflasi Sumatera Barat tahun 2025 tetap berada di atas target.
"Pada semester I 2025, inflasi Sumbar sebenarnya relatif terjaga dengan baik dan masih berada dalam koridor sasaran 2,51 persen. Namun mulai Agustus terjadi cuaca ekstrem yang berdampak besar pada sektor pertanian," ujar Majid dalam media briefing, Senin (5/1/26), di Padang.
Ia menjelaskan, gangguan pada sektor pertanian menyebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis yang menjadi penyumbang utama inflasi, khususnya dari kelompok bahan makanan. Kenaikan harga dimulai dari beras, kemudian diikuti bawang merah dan cabai.
Baca juga: Mahyeldi Lantik Andree Harmadi Algamar sebagai Kepala Biro Umum, 65 Kepala SMA Ikut Dilantik
Sementara itu, memasuki dua pekan Desember 2025, tekanan inflasi khususnya pada komoditas pangan mulai mereda. Hal tersebut tidak lepas dari berbagai upaya pengendalian harga yang dilakukan Bank Indonesia, terutama pada komoditas cabai.
"Upaya pengendalian sudah mulai menunjukkan hasil. Namun bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir November kembali memberikan tekanan, terutama akibat terganggunya jalur distribusi," jelasnya.
Baca juga: Digitalisasi Pembayaran Kian Menguat, QRIS Sumbar Lampaui Target Nasional
Perubahan jalur distribusi menyebabkan biaya transportasi meningkat, sehingga harga pangan dan sejumlah komoditas lainnya terpaksa naik secara fundamental. Selain komoditas pangan, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan yang cukup signifikan.
"Kenaikan harga emas perhiasan mencapai sekitar 15 hingga 20 persen, dan ini turut memberikan kontribusi terhadap inflasi Sumatera Barat sepanjang 2025," tambah Majid.
Penulis: Imel
Editor: Imel
Berita Terkait
- Gubernur Mahyeldi Rangkul Apindo Bantu UMKM Sumbar Naik Kelas
- Efisien, Transparan, dan Ramah Lingkungan, KAI Divre II Sumbar Optimalkan Penggunaan BBM untuk Mobilitas Masyarakat
- Wagub Vasko Dorong Kab/Kota di Sumbar Tiru Langkah Pariaman Perluas Pasar Produk Pangan
- Sinergi Berkelanjutan, OJK dan Universitas Andalas Sepakati Nota Kesepahaman Baru
- Jaga Kualitas Layanan dan Keselamatan Perjalanan KA, KAI Divre II Sumbar Lakukan MCU Rutin bagi Pekerja






