Bank Indonesia Optimistis Inflasi Sumbar Kembali Terkendali pada 2026

Senin, 05 Januari 2026, 17:18 WIB | Ekonomi | Kota Padang
Bank Indonesia Optimistis Inflasi Sumbar Kembali Terkendali pada 2026
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, saat berikan pemaparan dalam media briefing, Senin (5/1/26), di Padang. (melba)
IKLAN BANK INDONESIA KAS KELILING

PADANG, binews.id - Sumatera Barat tercatat mengalami deflasi sebesar 0,24 persen (month to month/mtm) pada November 2025. Namun secara tahunan, inflasi masih berada di level 3,93 persen (year on year/yoy). Dengan kondisi tersebut, inflasi Sumatera Barat hingga November 2025 tercatat sebesar 3,62 persen (year to date/ytd), berada di atas rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,51 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, menyebut terdapat dua peristiwa utama yang mendorong inflasi lebih tinggi sepanjang 2025, yakni cuaca kemarau pada Juni hingga September serta bencana hidrometeorologi yang terjadi menjelang akhir tahun. Kondisi tersebut diperkirakan akan membuat inflasi Sumatera Barat tahun 2025 tetap berada di atas target.

Baca juga: Bank Indonesia Sumbar Perkuat Pengendalian Harga dan Dorong Transaksi Pembayaran Digital Selama Ramadan

"Pada semester I 2025, inflasi Sumbar sebenarnya relatif terjaga dengan baik dan masih berada dalam koridor sasaran 2,51 persen. Namun mulai Agustus terjadi cuaca ekstrem yang berdampak besar pada sektor pertanian," ujar Majid dalam media briefing, Senin (5/1/26), di Padang.

Ia menjelaskan, gangguan pada sektor pertanian menyebabkan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis yang menjadi penyumbang utama inflasi, khususnya dari kelompok bahan makanan. Kenaikan harga dimulai dari beras, kemudian diikuti bawang merah dan cabai.

Baca juga: Mahyeldi Lantik Andree Harmadi Algamar sebagai Kepala Biro Umum, 65 Kepala SMA Ikut Dilantik

Sementara itu, memasuki dua pekan Desember 2025, tekanan inflasi khususnya pada komoditas pangan mulai mereda. Hal tersebut tidak lepas dari berbagai upaya pengendalian harga yang dilakukan Bank Indonesia, terutama pada komoditas cabai.

"Upaya pengendalian sudah mulai menunjukkan hasil. Namun bencana hidrometeorologi yang terjadi di akhir November kembali memberikan tekanan, terutama akibat terganggunya jalur distribusi," jelasnya.

Baca juga: Digitalisasi Pembayaran Kian Menguat, QRIS Sumbar Lampaui Target Nasional

Perubahan jalur distribusi menyebabkan biaya transportasi meningkat, sehingga harga pangan dan sejumlah komoditas lainnya terpaksa naik secara fundamental. Selain komoditas pangan, inflasi juga didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan yang cukup signifikan.

"Kenaikan harga emas perhiasan mencapai sekitar 15 hingga 20 persen, dan ini turut memberikan kontribusi terhadap inflasi Sumatera Barat sepanjang 2025," tambah Majid.

Halaman:

Penulis: Imel
Editor: Imel

Bagikan: