Setelah Covid Landai, Andani: Reformasi Ketahanan Kesehatan

Sabtu, 06 November 2021, 16:33 WIB | Kesehatan | Provinsi Sumatera Barat
Setelah Covid Landai, Andani: Reformasi Ketahanan Kesehatan
Kepala Pusat Diagnostik Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Andani Eka Putra. IST
IKLAN GUBERNUR

PADANG, binews.id -- Data-data epidemiologi 1 bulan terakhir memperlihatkan kondisi yang sangat bagus di Indonesia, termasuk di Sumatera Barat. Angka positivitas hampir selalu di bawah 1 persen, nilai RT turun sekitar 0.6-0.8, rumah sakit sudah pada kosong yang ditandai dengan penurunan BOR dan angka rawatan per 100 ribu penduduk menurun. Indonesia dianggap oleh lembaga internasional berada pada level 1, di mana situasi pandemi sudah sangat tekendali.

"Pertanyaan besar adalah kenapa indikator pandemi di Indonesia, termasuk Sumatera Barat menurun? Apakah Protokol Kesejatan (Prokes) kita sudah berjalan dengan baik? Apakah testing, tracing dan isolasi sudah berjalan dengan baik? Apakah vaksin kita sudah baik pada waktu penurunan kasus mulai terjadi? Jelas jawabannya tidak! Tidak ada indikator tersebut yang berkontribusi dalam penurunan pandemi," ujar Kepala Pusat Diagnostik Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand, Andani Eka Putra, Jumat (5/11/2021).

Dr.Andani, pada laporannya terkait varian COVID 19 di Sumatera Barat, memperlihatkan pola peningkatan kasus lebih didorong oleh pergerakan varian baru. Periode Agus - Okt 2020, dominan mutan D614G, tetap ada hingga Maret 2021, April - Mei 2021 terlihat varian lokal B1.466.2, namun pada Juni ditemukan 53 persen varian Delta, dan meningkat menjadi 97 persen pada pertengahan Juli 2021. Perkiraan akhir Juli semua sudah terpapar Delta.

Menurut Dr. Andani, yang juga tenaga Ahli Menteri Kesehatan, Delta adalah varian virus COVID 19 yang angka penyebarannya sangat cepat, dari 1 orang menyebar ke 6 orang. Sehingga dalam waktu singkat daerah tersebut akan terpapar oleh Delta.

Baca juga: Semen Padang Raih Penghargaan Tertinggi Penanggulangan Covid-19 dari Kemnaker

"Memang tidak ada data seroepidemiologi yang mendukung ini, namun data-data empiris cukup membuktikan fenomena ini. Untungnya Delta adalah tingkat fatalitas (kematian) yang rendah, hanya sekitar 1.5-2 persen.

Kondisi ini mampu menjawab pertanyaan kenapa indikator pandemi menurun walau perilaku tidak sesuai, jawabannya karena sebagian besar warga sudah terinfeksi COVID-19 varian Delta. "Sudah tercapai imunitas alamiah terhadap pandemi atau istilah lainnya tercapai herd imunity varian Delta," ujar Andani.

Data empiris yang mendukung masyarakat sudah banyak terinfeksi berasal dari beberapa kasus. Dr Andani, pada suatu diskusi dengan satu nagari menanyakan berapa yang meninggal periode Juli 2021? Mereka menyatakan hampir tiap hari ada, dan bahkan pernah satu hari 4 orang. Saat ditanya lagi berapa yang demam di nagari tersebut, jawabnya hampir 50 persen. Namun saat ditanya berapa hilang penciuman, dengan yakin mereka menyatakan hampir 95 persen warganya hilang penciuman.

Data di nagari lain melaporkan, lebih dari 20 warganya meninggal dalam 2 minggu fase puncak COVOD 19 bulan Juli 2021, dan lebih dari 50 persenwarganya demam dan sebagian terjadi serumah.. sayangnya semua kasus ini hampir tidak pernah dilakukan test PCR untuk diagnosis. "Belajar dari data ini terlihat jelas bahwa Delta sudah menginfeksi hampir 60-70 persen populasi masyarakat Sumatera Barat," ujar Andani.

Baca juga: Raih Penghargaan Tertinggi Penanggulangan Covid-19 dari Kemnaker, Gubernur Mahyeldi: Selamat Kepada Semen Padang

Apakah pelajaran dari kasus ini? Menurut Andani Eka Putra pelajaran pentingnya adalah kondisi ini terlihat baik karena fatilitas varian Delta tidak tinggi dan pencatatan kematian belum berjalan dengan baik. "Namun ada risiko yang besar..yaitu bagaimana kalau muncul varian baru dengan fatalitas tinggi? Apakah kita sudah siap?" ujar Dr. Andani.

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: