Carano Dirampas Segilintir Orang, Cucuang Keponakan Suku Patopang Minta LKAAM Sumbar Menyelesaikan

Dharmasraya binews id -- Carano yang berisikan siriah dirampas paksa oleh segelintir orang, Cucuang keponakan suku Patopang di bawah payung Datuak Tan Nameh, tak terima meminta agar Lembaga Kerapatan Adat Minang Kabau (LKAAM) Provinsi Sumatera Barat, mengambil sikap dalam penyelesaian.
Pasalnya, sejumlah mediasi yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan dalam nagari hingga kecamatan dan LKAAM Kabupaten itu, menemui jalan buntu.
Insiden tak terpuji itu dilakukan oleh Abdullah Cs, warga Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru pada 18 Oktober 2021 itu, berawal saat Miswardi (35), bersama saudaranya membawa carano menuju rumah salah seorang datuak di nagari setempat Dtk Pangulu Mudo H. Mawarman.
"Perampasan itu dilakukan oleh Abdullah Cs saat kami menuju rumah Datuak panghulu mudo, dijorong Sungai Lomak, Nagari Koto Padang," kata Miswardi, kepada awak media, Sabtu (13/11/21).
Mirisnya lagi, tindakan yang tak sesuai dengan keramahan kaum Minang Kabau tersebut, dilakukan dijalan, layaknya seorang yang tidak saling menghargai antar sesama cucu kemenakan Dtk Tan Nameh kata Miswardi dengan wajah kesal.
Akibat dari tindakan tak terpuji itu, siriah carano sebagai simbol bagi kaum Minang Kabau dan bentuk penghargaan serta penghormatan pada petinggi suku tersebut, pecah dan dibawa oleh Abdullah Cs.
"Ini jelas satu penghinaan bagi kami selaku cucuang keponakan Datuak Tan Ameh, dan harus ada langkah nyata oleh Ketua LKAAM Provinsi Sumatera Barat," ungkapnya.
Menurutnya, langkah nyata itu harus segera diambil alih oleh Ketua LKAAM Provinsi Sumatera Barat. Sebab, berbagai upaya mediasi telah dilakukan oleh pihak terkait,berawal penyelesaian di kampuang dengan niniak mamak,sampai ke KAN Kecamatan, namun belum juga membuahkan hasil kata Miswardi.
"Bila terus dibiarkan, kami khawatir akan ada bentrok fisik dan tidak dihargainya lagi simbol Minang Kabau diranah Minang ini," imbuhnya.
Anehnya lagi, perampasan itu dilakukan oleh Abdullah Cs, atas dasar ketidak senangan gelar Datuak Tan Nameh disandang oleh Andri selaku orang yang berhak menyandang gelar Datuak Tan Ameh.
"Kami tidak habis fikir, kenapa sekarang pada hal, Datuak Tan Ameh ini sudah disandang oleh Andri selama empat tahun dan berjalan baik," jelasnya.
Penulis: Imel
Editor: BiNews
Berita Terkait
- Wakil bupati Kabupaten Dharmasraya Leli Arni Hadiri Hari Lahir Nahdlatul Ulama Ke-102
- Sutan Riska Pamit kepada Jajaran Polres Dharmasraya, Apresiasi Sinergitas Selama ini
- Sutan Riska Lantik PAW Wali Nagari Abai Siat
- Sutan Riska Berpartisipasi Dalam Penanaman Satu Juta Ha Jagung Bersama Forkopimda
- Tabligh Akbar Dalam Rangka HUT Kabupaten Dharmasraya ke 21 diikuti Ribuan Jamaah