Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Mahyeldi - Vasko
Konsolidasi Ketahanan Daerah dan Agenda Percepatan Pemulihan Pascabencana
Satu tahun kepemimpinan Mahyeldi - Vasko di Sumatera Barat tidak dapat dilepaskan dari konteks yang sangat menantang. Bencana beruntun sejak tahun 2024 yang menewaskan 67 orang dan memutus sejumlah sarana konektivitas utama belum sepenuhnya pulih, kemudian disusul bencana dengan skala lebih besar pada tahun 2025 dengan korban 264 jiwa yang melanda 16 kabupaten/kota, 150 kecamatan, serta 793 nagari/desa/kelurahan di Sumatera Barat. Situasi ini menempatkan Sumatera Barat dalam kondisi compound shock, yaitu guncangan berlapis sebelum proses pemulihan dari bencana sebelumnya tuntas.
Dalam kerangka ekonomi regional dan tata kelola pembangunan, kondisi tersebut berimplikasi langsung terhadap
kapasitas fiskal daerah, stabilitas sosial, serta prospek pertumbuhan jangka menengah. Oleh karena itu, refleksi kinerja satu tahun ini dibaca dalam perspektif ketahanan (resilience), adaptasi kebijakan, dan kebutuhan intervensi struktural lintas pemerintahan.
Kinerja Makro dalam Konteks Krisis
Data makro Sumatera Barat 2025 memperlihatkan paradoks pembangunan: pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 3,37 persen (c-to-c), lebih rendah dibandingkan 2024. Dalam kondisi normal, angka ini dapat dimaknai sebagai pelemahan aktivitas ekonomi. Namun dalam konteks Sumatera Barat yang mengalami kerusakan infrastruktur, gangguan distribusi, serta disrupsi sektor produktif akibat bencana, fakta bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi melambat, indikator kesejahteraan justru membaik.
Tingkat kemiskinan turun dari 5,42 persen pada 2024 menjadi 5,31 persen pada 2025. Capaian ini menjadikan Sumatera Barat termasuk delapan terbaik nasional dan jauh di bawah rata-rata nasional yang sebesar 8,25 persen. Jumlah penduduk miskin berkurang dari sekitar 315 ribu jiwa menjadi 312,30 ribu jiwa. Penurunan ini terjadi meskipun garis kemiskinan naik menjadi Rp776.517 per kapita per bulan atau meningkat 6,40 persen akibat kenaikan harga komoditas makanan.
Di saat yang sama, pengeluaran riil per kapita mencapai Rp12,04 juta per tahun atau tumbuh 2,76 persen,
menandakan daya beli yang tetap terjaga. Kondisi pasar kerja juga relatif stabil. Jumlah penduduk bekerja mencapai 3,07 juta orang, Tingkat Pengangguran Terbuka menurun dari 5,69 persen pada 2024 menjadi 5,52 persen pada 2025, dan kualitas pekerjaan membaik dengan meningkatnya proporsi pekerja penuh dan formal.
Perbaikan tersebut diperkuat oleh distribusi pendapatan yang semakin merata. Gini Ratio membaik dari 0,287 pada 2024 menjadi 0,280 pada 2025, menjadikannya tujuh terbaik nasional dan jauh lebih rendah dari rata-rata nasional 0,363. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tetap inklusif meskipun melambat. Struktur ketenagakerjaan turut mengonfirmasi karakter tersebut. Sektor pertanian menyerap 35,08 persen tenaga kerja, perdagangan kecil dan eceran 18,57 persen dengan tambahan sekitar 38,25 ribu pekerja pada 2025, diikuti akomodasi dan makan minum 8,83 persen serta industri pengolahan 7,79 persen.
Di sisi kualitas manusia, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat dari 76,43 pada 2024 menjadi 77,27 pada 2025, menempatkannya sebagai enam terbaik nasional dan di atas rata-rata nasional 75,90. Capaian ini ditopang oleh peningkatan umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah, dan pengeluaran riil.
Penulis: Imel
Editor: Imel
Berita Terkait
- Kunjungan Menteri Pariwisata ke Sumbar, Dorong Pengembangan Mentawai hingga Wisata Gastronomi
- Hari Otonomi Daerah Provinsi, Mahyeldi Tekankan Daerah Harus Inovatif dan Mandiri
- Ditjen Dukcapil Kemendagri tunjuk Kota Padang jadi Pilot Project Program Digitalisasi Bansos
- Mahyeldi Ansharullah Lepas Keberangkatan 384 Calon Jemaah Haji Kloter 1 Embarkasi Padang Tahun 1447 H/2026 M
- Transformasi UKPBJ, Sekdaprov: Belanja Barang Harus Berdampak bagi Daerah






