Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Mahyeldi - Vasko

Senin, 23 Februari 2026, 17:13 WIB | Pemerintahan | Kota Padang
Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Mahyeldi - Vasko
Gubernur Mahyeldi Ansharullah - Wagub Vasko Rusemy.
IKLAN BANK INDONESIA KAS KELILING

Dengan demikian, meskipun pertumbuhan ekonomi 2025 tertahan oleh dampak bencana yang mengganggu infrastruktur, transportasi, perdagangan, dan investasi fisik (PMTB), fondasisosial-ekonomi Sumatera Barat tetap bekerja secara inklusif.

Refleksi satu tahun kepemimpinan Mahyeldi - Vasko menunjukkan bahwa stabilitas kesejahteraan dapat dijaga bahkan dalam situasitekanan eksternal yang berat. Secara agregat, konfigurasi indikator ini menggambarkan satu polayang jelas: fase satu tahun pertama pemerintahan Mahyeldi - Vasko lebih berorientasi padastabilisasi sosial-ekonomi dan penguatan fondasi struktural dibandingkan akselerasipertumbuhan yang agresif.

Dalam perspektif pembangunan daerah, pendekatan ini dapat dikategorikan sebagai strategi konsolidatif. Ketika daerah menghadapi tekanan eksternal dan bencana berulang, menjaga stabilitas sosial, menekan kemiskinan, mengendalikan pengangguran, dan memperbaiki distribusi pendapatan menjadi prioritas yang rasional.

Dengan kata lain, tahun pertama kepemimpinan Mahyeldi - Vasko lebih tepat dikategorikan sebagai fase stabilisasi sosial-ekonomidi tengah krisis, bukan fase ekspansi pertumbuhan. Tantangan ke depan adalah bagaimana

fondasi yang telah diperkuat ini menjadi basis untuk fase akselerasi berikutnya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi perlu direspons melalui peningkatan investasi, percepatan proyekstrategis, hilirisasi sektor unggulan, serta penguatan konektivitas dan daya saing regional.

Gubernur mendampingi presiden
Gubernur mendampingi Presiden

2. Krisis Berulang dan Tekanan Fiskal Daerah

Ketahanan sosial yang relatif terjaga tersebut sesungguhnya dibangun di atas struktur fiskal daerah yang sedang mengalami tekanan serius. Bencana tahun 2024 meninggalkan konsekuensi anggaran yang tidak kecil: kerusakan jalan provinsi dan kabupaten/kota, jembatan penghubung antarwilayah, fasilitas pendidikan, sarana kesehatan, jaringan irigasi, serta permukiman masyarakat membutuhkan rehabilitasi segera. Sebagian infrastruktur bahkan

memerlukan rekonstruksi total, bukan sekadar perbaikan ringan. Kebutuhan pembiayaan yangbesar itu belum sepenuhnya tertangani ketika tahun 2025 kembali menghadirkan bencanadengan intensitas dan cakupan yang lebih luas.

Akumulasi dua gelombang bencana ini menciptakan apa yang dalam kajian keuangan publik disebut sebagai fiscal stress scenario, yaitu situasi di mana kapasitas fiskal daerah menghadapi tekanan simultan dari sisi belanja dan penerimaan. Di satu sisi, belanja tanggap darurat harus segera dicairkan untuk evakuasi, logistik, hunian sementara, serta pemulihan layanan dasar.

Di sisi lain, kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur memerlukan alokasi anggaran jangka menengah yang signifikan. Pada saat yang sama, pemerintah daerah tetap berkewajiban membiayai program pembangunan rutin seperti pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan, serta belanja pegawai dan pelayanan publik lainnya.

Halaman:

Penulis: Imel
Editor: Imel

Bagikan: