Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Mahyeldi - Vasko

Memimpin di Tengah Krisis Bencana
Namun di balik angka-angka statistik tersebut, publik melihat dimensi kepemimpinan yang lebih personal. Mahyeldi bukan figur baru dalam manajemen krisis. Sejak gempa besar 30 September 2009 saat menjabat sebagai Wakil Wali Kota Padang, telah terbiasa berada di garis depan penanganan bencana berskala nasional, mengawal tanggap darurat, koordinasi bantuan, hingga pemulihan layanan publik. Pengalaman itu membentuk fondasi kepemimpinannya dalam situasi darurat. Saat menjadi Wali Kota Padang, ia kembali menghadapi banjir besar yang berulang hampir setiap tahun. Dari situ, terbentuk karakter kepemimpinan yang tenang, sistematis, dan berbasis koordinasi lintas sektor.
Dalam setiap krisis, Mahyeldi memahami bahwa stabilitas komando dan kejelasan arah menjadi kunci. Keputusan harus cepat, tetapi tetap terukur dan berbasis data. Pengalaman panjang inilah yang membuatnya tidak mudah terguncang ketika Sumatera Barat kembali menghadapi bencana beruntun pada 2024 dan 2025.
Namun sorotan besar tertuju pada Vasko. Datang dari ibu kota dengan latar belakang jejaring nasional yang kuat, awalnya ada keraguan publik. Apakah figur muda dari Jakarta ini siap menghadapi kompleksitas bencana Sumatera Barat? Apakah ia akan tergagap atau bahkan shockmenghadapi krisis besar di awal kepemimpinannya?
Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Vasko tidak terlihat gamang, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tandakebingungan. Dalam berbagai dokumentasi media, ia tampak menikmati kehadirannya di tengah
warga, tidur di tenda bersama pengungsi, membawa kendaraan sendiri tanpa protokoler berlebihan di tengah situasi bencana, hadir tanpa jarak.

Bahkan dalam satu momen yang cukup simbolik, ketika para pemimpin lain lengkap dengan sepatu bot dan atribut resmi meninjau lokasi berlumpur, Vasko terlihat santai, nyeker, tanpa alas kaki turun langsung ke lumpur untuk
mengecek fasilitas umum yang rusak.Gestur itu bukan sekadar spontanitas, tapi sebuah pesan bahwa kepemimpinan tidak selalu harusdibungkus formalitas. Bahwa dalam krisis, empati dan keberanian hadir lebih penting dari pada simbol kekuasaan.
Vasko tidak berdiri di belakang meja tapi berbicara langsung dengan warga,bercengkrama, menghibur, berusaha menjaga semangat para pengungsi. Di tengah krisis besar diawal masa jabatannya, ia justru terlihat menemukan jati dirinya. Bencana itu seolah tidak membuatnya ragu, tetapi justru mematangkan perannya sebagai pemimpin. Jejaring nasional yang dimilikinya juga tidak berhenti pada simbol. Jaringannya di pemerintah pusat, relawan, dan
Penulis: Imel
Editor: Imel
Berita Terkait
- Hari Otonomi Daerah Provinsi, Mahyeldi Tekankan Daerah Harus Inovatif dan Mandiri
- Ditjen Dukcapil Kemendagri tunjuk Kota Padang jadi Pilot Project Program Digitalisasi Bansos
- Mahyeldi Ansharullah Lepas Keberangkatan 384 Calon Jemaah Haji Kloter 1 Embarkasi Padang Tahun 1447 H/2026 M
- Transformasi UKPBJ, Sekdaprov: Belanja Barang Harus Berdampak bagi Daerah
- Sekdaprov Sumbar Lantik 8 Pejabat Administrator di Lingkungan Pemprov Sumbar






