Sudah 11 Tahun Gempa Sumbar, Ini Pesan BMKG

Rabu, 30 September 2020, 12:09 WIB | Peristiwa | Provinsi Sumatera Barat
Sudah 11 Tahun Gempa Sumbar, Ini Pesan BMKG
Mengenang Sejarah Gempa bumi 11 Tahun Silam. Foto : salah satu bangunan yang hancur dalam peristiwa gempa bumi Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 lalu.
IKLAN GUBERNUR

PADANG, binews.id -- Hari ini 30 September 2020, tepat 11 tahun pasca bencana gempa bumi 7,6 Skala Richter (SR) di Sumbar. Pengamat kegempaan juga memprediksi potensi Mentawai Megathrust dengan kekuatan yang lebih besar. Pemerintah menekankan, alih-alih larut dalam kecemasan, penguatan mitigasi untuk mencegah dampak bencana tetap harus dikedepankan.

Terbaru di wilayah Sumbar, gempa dengan magnitudo (M) 4,6 terjadi dengan pusat di timur laut Air Bangis Pasaman Barat, Senin (28/9/2020) pukul 23.26 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui medis sosial resminya menginformasikan, pusat gempa berada di Timur Laut Air Bangis.

"Pusat gempa di darat, 17 km Timur Laut Air Bangis, Pasaman Barat. Titik gempa pada koordinat 0.25 Lintang Utara dan 99.53 Bujur Timur. Dengan kedalaman 79 kilometer. Gempa dirasakan dengan skala MMI II di Pasaman Barat, Padang Pariaman, dan Pariaman," tulis BMKG dalam rilisnya.

Sementara itu dalam keterangan pers pada Senin 28 September 2020,Kepala BMKGDwikorita Karnawati menyebutkan,sebagai negara berpotensi rawan bahaya gempa dan tsunami, penelitian atau kajian gempa bumi dan tsunami di Indonesia perlu terus didorong dengan tujuan bukan untuk menimbulkan kecemasan dan kepanikan.

Baca juga: Gempa Magnitudo 5.0 Guncang Kota Padang, Warga Kaget dan Berhamburan

"Tujuannya adalah, untuk mendukung penguatan sistem mitigasi bencana, sehingga kita dapat mengurangi atau mencegah dampak dari bencana itu, baik jatuhnya korban jiwa maupun kerusakan bangunan dan lingkungan," kata Dwikorita, dilansir daribmkg.go.id.

Dwikorita mencontohkan, sejak beberapa tahun lalu beberapa peneliti telah melakukan kajian potensi kejadian tsunami di Pantai Selatan Jawa yang dapat mencapai ketinggian 20 meter akibat gempa bumi megahtrust. Metode, pendekatan, dan asumsi yang dilakukan dalam setiap penelitian berbeda, tapi dengan hasilnya kurang lebih sama.

Hasil penelitian, sambungnya lagi, diperlukan untuk menguatkan sistem mitigasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, mengingat potensi kejadian di Indonesia tidak hanya berada di pantai selatan Jawa, tapi juga berpotensi terjadi di sepanjang pantai yang menghadap ke Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

"Sejak 2008 lalu pemerintah telah mengantisipasi potensi kejadian tsunami akibat gempa bumi megathrust seperti yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004, dan juga seperti yang telah dimodelkan oleh beberapa peneliti. Jadi, sistem peringatan dini yang dibangun di BMKG memang disiapkan untuk memonitor dan mengantisipasi kejadian gempa bumi," katanya lagi.

Baca juga: BNPB Pastikan Dampingi Terus Daerah Terdampak Bencana Banjir Bandang

Namun Dwikorita mengingatkan, penelitian yang ditindaklanjuti dengan peringatan dini belum sepenuhnya menjamin keberhasilan mencegah korban jiwa dan kerusakan akibat tsunami. Oleh karena itu, kesungguhan Pemda bersama Pemerintah Pusat untuk melakukan berbagai langkah kesiapan pencegahan bencana sangat perlu untuk ditingkatkan.

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: BiNews

Bagikan: