Kisah Perjuangan Syekh Burhanuddin Ulakan Ditampilkan di CFD Bundaran HI

Senin, 24 Februari 2020, 13:25 WIB | Hiburan | Nasional
Kisah Perjuangan Syekh Burhanuddin Ulakan Ditampilkan di CFD Bundaran HI
Ajang CFD Bundaran HI Jakarta Minggu 23/2 jadi sasaran promosi MAHAKARYA RANDAI WE'E SI PONO. (foto: dok)
IKLAN GUBERNUR

JAKARTA, binews.id---Kisah perjuangan Syekh Burhanudin Ulakan Pariaman karya Sastri Bakry dipentaskan di arena CFD Bunderan HI depan Plaza Indonesia, Minggu 23/2.

Memanfaatkan lalu-lalang warga ibukota di Car Free Day (CFD) menjadi pilihan tepat berpromosi, saat Randai Minang ditampilkan, para penggila olahraga jalan kaki menghentikan jalannya.

Menurut Sastri, flashmob ini adalah upaya manajemen Mahakarya untuk menarik perhatian masyarakat Jakarta terhadap budaya minang khususnya seni tradisi randai.

"Acara ini digelar DPP HWK yang didukung Sumbar Talenta Indonesia, Gemumi dan MMC. Pakaian khas minang Ibu-ibu HWK dan Manajemen memakai baju kurung sementara pemain randai memakai kostum randai hitam dan berdeta, semakin menjadi daya tarik,"ujar Sastri.

Baca juga: Saat CFD Masih Banyak Masyarakat Belum Tertib Menerapkan Jaga Jarak Aman COVID-19

Kata Sastri Bakri para pemeran/aktor randai memakai baju taluak balango. Endru, pemeran utama sebagai Syekh Abdurauf As Singkili mengatakan sebagai mileneal dia bangga menjadi tokoh syekh yang menjadi panutan masyarakat Aceh dan Mainang.

"Saya berharap teman-teman mileneal belajar banyak dari sikap dan perilaku para syekh yang dihormati,"ujar Endru.

Manajer produksi Kurniawati mengatakan memanfaatkan CFD, semua komponen terlibat MAHAKARYA RANDAI WE'E SI PONO berpromosi ria membagi-bagikan brosur saat pemain randai sudah berhasil mencuri perhatian peserta CFD atau saat legaran sudah terbentuk penuh .

"Setelah itu kami membagikan brosurnya sambil menyapa , datang ya ke PPHUI Kuningan sebelah Pasfest (pasar festival) 7 Maret 2020 sambil senyum manis,"ujar Kurniawati.

Ir Danny Soedarsono, Ketum HWK yang didampingi pengurus DPP HWK Erita,Chitra, Chamsiah, Tuti, Fuji, Mira, Riri dan lain-lain, mengatakan bahwa seni tradisi adalah bagian dari budaya nasional.

"Dan merupakan perekat kuat ketahanan bangsa dan itu perlu dirawat dan selalu dihidupkan sebagai wujud kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki warna-warni budaya,"ujar Danny.

Halaman:
Marhaban ya Ramadhan 2025

Penulis: Imel
Editor: Imel

Bagikan: